Thursday, August 29, 2013

[Review] Swiss: Little Snow in Zürich

Judul: Swiss: Little Snow in Zürich
Penulis: Alvi Syahrin
Penyunting: Yulliya Febria
Proofreader: Widyawati Oktavia
Penata Letak: Erina Puspitasari
Desainer Sampul: Gita Mariana
Ilustrator Sampul dan Isi: Gama Marhaendra
Penerbit: Bukune
Cetakan: I, Juni ke 2013
Tebal: 308



Yasmine mempunyai rutinitas yang selalu dilakukannya sepulang sekolah. Ia tidak akan langsung pulang, melainkan pergi ke dermaga di tepi Danau Zürich. Bersantai sejenak, memotret obyek-obyek yang menarik baginya. Di sanalah dia bertemu dengan Rakel. Laki-laki yang awalnya hanya duduk berdampingan dengannya tanpa ia kenal. Beberapa kali bertemu tanpa bertegur sapa, akhirnya Yasmine dan Rakel resmi berkenalan. Mereka bisa cepat akrab. Memotret sesuka mereka dan tertawa bersama. Rakel pun mengajak Yasmine melakukan lima hal selama musim dingin. Lima hal yang akan mereka lakukan bersama-sama:

  1. Ice skating selama lima jam penuh
  2. Keliling Distrik 1Zürich
  3. Menginjakkan kaki di Puncak Uetliberg
  4. Keliling Zürich dan menolong orang yang butuh bantuan
  5. Bercerita panjang lebar di Danau Zürich sampai matahari terbit
Yasmine setuju untuk melakukan lima hal itu. Dia merasa nyaman bersama-sama dengan Rakel. Yasmine tidak tahu bahwa lima hal itu berkaitan dengan masa lalu Rakel. Masa lalu yang membuat hubungan mereka renggang. Firasat negatif ini mulai muncul ketika Yasmine tahu bahwa Rakel kenal dengan Elena dan Dylan, sahabatnya. Namun, Rakel, Elena, dan Dylan terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Di sisi lain, Yasmine merasa lima hal yang akan dilakukannya bersama Rakel adalah tanda bahwa Rakel menyukai dirinya. Namun, dia akhirnya harus merasa kecewa. Rakel ternyata selama ini menganggap Yasmine sebagai pengganti. Pengganti seseorang dari masa lalunya.

***
Swiss adalah seri pertama Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang saya baca. Karena mengangkat sebuah tempat menjadi latar yang penting, tentu saja pembaca mengharapkan deskripsi yang bagus tentang Swiss. Saya sendiri menyukai deskripsi Alvi tentang tempat-tempat di Swiss. Deskripsinya cukup lengkap, membantu pembaca membayangkan tempat itu tanpa membuatnya seperti buku traveling. Apalagi dalam salah satu adegan juga ditampilkan budaya lokal dalam novel ini.

Beralih ke penampilan, jelas kaver menjadi hal penting dari sebuah buku. Dan kaver Swiss ini manis sekali. Sederhana tapi sangat sesuai dengan penggambaran musim dingin yang menjadi latar waktu di novel ini. Ditambah lagi di dalamnya ada banyak selingan ilustrasi yang cantik. Cukup untuk membuat penampilan Swis semakin menarik.

Untuk isi serita sendiri, saya ingin menyinggung sebentar tentang prolog dan epilog yang ditulis oleh Alvi. Menurut saya, prolog dan epilognya sangat unik. Mengambil sudut panjang dari salju yang menyaksikan Yasmine dan Rakel secara sekilas. Mengambil sudut pandang dari sebuah benda mati, ini memang bukan yang pertama kali.Namun, tetap saja, ini unik! Gaya bahasa Alvi sendiri cukup tenang, dan sering menggunakan kalimat yang berbunga-bunga. Saya menikmati gaya bahasa ini, tapi tidak menjadi favorit saya. 

Itu poin-poin positif yang saya dapat dari buku ini. Sayangnya, untuk keseluruhan ceritanya, saya kurang suka. Saya bisa menyelesaikannya dengan cepat, tapi rasanya agak datar. Dari awal cerita, pembaca dibuat bertanya-tanya masa lalu seperti apa yang belum bisa dilupakan oleh Rakel, sehingga menganggap Yasmine sebagai pengganti masa lalu tersebut. Namun, ketika akhirnya saya mengetahuinya, rasanya justru antiklimaks. Konflik yang terjadi di masa lalu itu terasa kurang kuat untuk menjadi pondasi cerita. Akhirnya, saya membaca novel ini dengan datar saja. Saya sudah bisa menebak endingnya, tapi tetap berniat untuk menyelesaikan novel ini.

Jadi, inilah perkenalan saya dengan STPC. Saya tetap tertarik untuk membaca seri-seri lainnya. Oya, Alvi sendiri seorang penulis yang masih sangat muda. Menurut saya, Alvi berpotensi menghasilkan karya yang unik dan berbeda (ingat tentang ide Alvi membuat salju sebagai pencerita). Jadi, semoga sukses dengan karya selanjutnya. Akhirnya, saya berikan 3/5 bintang untuk cerita dan ilustrasi cantik dalam Swiss. :)

Ps: Thanks Mbak Nana @ Reading in The Morning untuk bukunya.

Posting untuk:
- Baca Bareng BBI dengan tema Sastra Indonesia/penulis Indonesia.

9 comments:

  1. Aku juga suka ide tentang saljunya. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, memang unik Mbak. Baru pertama itu aku baca penceritaan lewat salju

      Delete
  2. jadi mau baca.
    Gpp Lu, kamu baru baca STPC 1, lha saya belum baca sama sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, penasaran sama tempat-tempat yang lain :D

      Delete
  3. recomended banget kalo bagi aku itu yang Barcelona Te Amo, coba baca, itu justru yang pertama kali terbit dari Bukune.
    selamat membaca. :)

    ReplyDelete
  4. Waktu novel ini muncul, aku cukup penasaran. Namun, membaca beberapa kali review dari para teman blogger kok kurang dapet tanggapan positif, jadi mengurungkan niat untuk mengoleksinya. Padahal, setting yang diangkat cukup menari, Swiss.
    Terima kasih :)

    ReplyDelete
  5. Aku belum punya STPC yg ini, baru punya 3 aja :* London, Tokyo sm Bangkok.... hiksss pengen bacaaaa

    ReplyDelete
  6. dari dulu pengen banget buku ini dan belum juga kesampaian hahaha. jadi penasaran sama prolog n epilognya~

    ReplyDelete
  7. kalau menurutku novel ini biasa aja .. masalahnya datar

    ReplyDelete