Thursday, February 28, 2013

[Review] Si Dul Anak Betawi

Judul: Si Dul Anak Betawi
Penulis: H. Aman Datuk Madjoindo
Penerbit: Balai Pustaka
Tebal: 86 hlm
Cetakan ke: 23, 2006

Abdoel Hamid adalah nama tokoh utama kita kali ini. Namun, ia lebih sering dipanggil Si Dul oleh keluarga dan temannya. Si Dul tinggal bertiga dengan nyak (ibu) dan babenya (bapak). Nyak tiap hari tinggal di rumah sedangkan babe menjadi sopir bus kota. Seperti kebanyakan anak-anak, tiap hari Si Dul bermain dengan teman-temannya. Agar bisa main bareng dengan teman-teman, kadang Si Dul harus kucing-kucingan dengan nyaknya. Walaupun nyak menyuruh Dul tinggal di rumah saja, kadang ia mencari akal untuk ketemu teman-temannya.

Kehidupan Dul berjalan lancar dan menyenangkan hingga suatu hari datang kabar yang mengejutkan dari babe. Teman babe datang ke rumah dan mengabarkan kalau babe meninggal akibat kecelakaan. Kepergian babe sangat berpengaruh bagi kehidupan nyak dan Dul. Nyak jadi tidak bersemangat untuk menjalani hidup, dan sakit karena tidak mau makan. Di tengah cobaan tersebut, Dul mencoba untuk tegar dan membantu sebisanya untuk kelangsungan hidup mereka.

Bagaimana akhirnya kehidupan Dul dan nyak? Apakah mereka bisa bangkit setelah kepergian babe? Jawabannya bisa ditemukan di buku ini.

Saat membuat daftar bacaan Fun Year Event With Children's Literature kategori klasik, saya baru tersadar bahwa tidak ada karya klasik asli Indonesia yang masuk ke daftar. Oleh karenanya, melihat buku ini, dengan dilabeli tulisan 'Sastra Klasik', saya langsung tertarik untuk membacanya. Apalagi tokoh Si Dul sudah begitu akrab bagi masyarakat Indonesia. 

Sayangnya, setelah membaca kisah Si Dul, saya menyimpulkan buku ini bukan cerita favorit saya. Saya melihat begitu banyak adegan pertengkaran Dul teman-temannya dalam buku ini. Bahkan, adegan pertengkaran tersebut diceritakan begitu detail mulai dari kata-kata hingga sikap mereka. Menurut saya, adegan seperti itu kurang cocok bagi buku anak-anak. Saya pribadi sangat menyayangkan adanya adegan pertengkaran semacam itu, mengingat karya ini merupakan karya besar dari Indonesia.

Dari segi cerita, saya juga merasa alur dalam buku ini sangat lambat. Saya sendiri sempat meninggalkan buku ini dan membaca buku lain sebagai selingan, baru kemudian melanjutkan kisah Si Dul ini. Meski begitu, tetap ada kesan moral yang bisa diambil. Saya melihat karakter Dul mengalami perkembangan. Di awal cerita, ia adalah tipe anak jahil yang sukanya bermain saja, tapi semenjak ditinggal babe ia jadi lebih dewasa dan berinisiatif untuk membantu nyak, meski sifatnya yang mudah emosi tetap ada.

Keseluruhan kisah Si Dul ini diceritakan dalam bahasa Betawi. Kadang saya bingung juga berusaha memahami artinya, tapi tetap bisa dimengerti akhirnya. Mengingat banyaknya adegan pertengkaran, juga bahasa yang cukup sulit, menurut saya buku ini bisa dibaca oleh anak berusia 13 tahun ke atas. Tentu saja lebih baik bila didampingi orang tua. Dan akhirnya, 3/5 bintang untuk kisah klasik asli Indonesia ini. 

Review ini diikutkan dalam Fun Year With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)




Juga untuk:




No comments:

Post a Comment