Sunday, January 12, 2014

[Review] Homeless Bird

Judul : Homeless Bird
Penulis: Gloria Whelan
Penerjemah: Ija Wajdi
Penyunting: Jia Effendie
Penyelaras aksara: Fenty Nadia
Pewajah Isi: Aniza Pujiati
Penerbit: Atria
Cetakan: 1, September 2012




Koly baru berusia tiga belas tahun ketika keluarganya sudah membicarakan pernikahan. Usia yang masih begitu muda, tapi sangat wajar menjalani pernikahan di India. Ayah dan ibunya segera mencari calon suami untuk Koly. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan calon tersebut. Hari adalah orangnya. Seorang laki-laki yang berusia 16 tahun. Keluarga Koly segera menyiapkan mas kawin. Pernikahan pun segera dilangsungkan.

Di hari pernikahan itulah Koly melihat Hari untuk pertama kalinya. Kejanggalan mulai terlihat. Hari tidak seperti pemuda berusia 16 tahun. Dia tampak jauh lebih muda. Lebih dari itu, Hari sedang sakit keras. Tak lama setelah hari pernikahannya, Koly mengetahui bahwa mertuanya tidak menginginkan Koly. Mereka menerima Koly sebagai menantu karena membutuhkan mas kawin untuk pengobatan Hari. 

Koly, di usia semuda itu, mulai merasa bimbang, tersingkir. Hilang sudah bayangan manis tentang pernikahan yang selama ini dibayangkannya. Ia bahkan tak bisa bercakap-cakap secara bebas dengan suaminya. Ia juga tak bisa kembali menemui orangtuanya. Tradisi tak memperbolehkan itu. Koly menyadari, inilah hidup yang harus ia tempuh. Suka maupun tidak. Beranikah ia melawan?

Bukan pertama kali ini saya membaca novel tentang pernikahan di India. Namun, saya masih tidak bisa mengerti bagaimana usia 13 tahun bisa dianggap sebagai usia yang matang untuk menikah. Mungkin di Indonesia juga masih ada yang seperti ini. Saya mencoba mengingat-ingat kembali masa ketika saya berusia 13 tahun. Pernikahan rasanya masih begitu jauh. Saya masih asyik sekolah, menikmati waktu bersama teman-teman.

Koly adalah gadis yang mulai berpikiran modern. Di lingkungannya, wanita tak perlu sekolah. Pendidikan tak akan dibutuhkan setelah menikah. Namun, Koly diam-diam rindu menerima pengetahuan dari bangku sekolah. Sangat wajar, karena ia sebenarnya masih berada di usia ketika rasa ingin tahu selalu datang.

"Saat Maa mengirimku ke desa untuk mengunjungi beberapa tempat, aku berlama-lama berhenti di bawah jendela sekolah untuk mendengarkan para murid menghafalkan pelajaran. Tetapi, pelajaran itu tidak seperti penyakit campak. Aku tidak bisa langsung tertular."

Buku ini memberi pengetahuan baru bagi saya tentang kehidupan sosial di India. Yang saya tangkap, pernikahan berarti 'memberikan' anak perempuan kepada keluarga suami. Apapun yang terjadi, istri harus mengikuti keluarga suami. Istri yang kembali ke orangtuanya akan menimbulkan aib. Saya sempat tercenung ketika membaca kutipan di bawah ini. Apakah hubungan anak perempuan dan orangtuanya benar-benar terputus sampai ia tidak tahu apa yang terjadi di keluarganya?

"Jika keluargaku mendengar apa yang terjadi padaku, mereka akan sedih dan bahkan malu. Sekarang barangkali abangku sudah menikah, dan istrinya akan tinggal di rumah orangtuaku."

Saya kurang tahu, apakah di masa modern ini tradisinya tetap seperti itu. Mungkin keadaannya beragam, seperti di Indonesia. Koly sudah mengalami begitu banyak hal di usia semuda itu. Beruntung ia punya keahlian, dan semangat belajar. Itu membuktikan pendidikan bisa menjadi modal dalam keadaan apapun. 3,5 bintang dari saya. 

7 comments:

  1. Pas liat cover dan penerbitnya aku mikir ini fantasi-_- taunya tentang pernikahan. 13 tahun pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tentang tradisi pernikahan di India. Bagus kok :)

      Delete
  2. Waahh pas aku lihat covernya, aku kira novel ini cerita tentang orang indonesia.. gataunya ceritain kehidupan gadis india.. :D

    "Ia bahkan tak bisa bercakap-cakap secara bebas dengan suaminya. Ia juga tak bisa kembali menemui orangtuanya. Tradisi tak memperbolehkan itu."
    Huuaaa kalimat langsung tercengang #okay mulai lebay
    Ternyata tradisi di India ketat gitu ya? Hmmm jadi penasaran sama kehidupan Koly yang menikah diumur 13tahun dan punya suami yang sakit keras ditambah lagi dia yang kepengen sekolah.. Duhh miris ya, aku pengen baca buku ini! :D

    ReplyDelete
  3. Ya Tuhan, mirisnyaaaa!
    ternyata bukan cuma di Indonesia yang budaya 'nikah dini' ya.
    ini malah lepih parah 13 tahun.
    mana ternyata cuma dijadikan tameng pula!
    Naudzubillahminzalik.

    ReplyDelete
  4. "Jika keluargaku mendengar apa yang terjadi padaku, mereka akan sedih dan bahkan malu. Sekarang barangkali abangku sudah menikah, dan istrinya akan tinggal di rumah orangtuaku."
    Sebuah tragedi pernikahan yang mengatasnamakan kebudayaan. Kompleks ya kak. Bagaimana hal-hal yang sudah membudaya menjadi ironi jika diubah dan disikapi sesuai dengan zamannya. Eksplorasi anak atas dasar budaya memang tidak hanya terjadi di Indonesia. India, yang mungkin secara teknologi dan kultur yang lebih modern masih menganggap pernikahan dini adalah sesuatu yang wajib. Nice review kak anyway :D

    ReplyDelete
  5. Kaget banget pas liat review-nya, anak berusia 13 tahun hrus mengalami hal semacam itu, klo diindonesia mungkin kak seto bisa bantu ya kak :(

    Ana Rosdiana

    ReplyDelete