Tuesday, March 26, 2013

[Review] Tottto-chan's Children

Judul: Anak-Anak Totto-chan, Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 hlm
Cetakan: IV, Oktober 2010

Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris, penulis, dan ahli panda asal Jepang ditawari menjadi Duta Kemanusiaan  oleh United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF). Kecintaannya terhadap anak-anak membuatnya langsung mengiyakan tawaran itu. Maka, dimulailah perjalanan kemanusiaan Tetsuko ke negara-negara miskin di berbagai benua.

TANZANIA, 1984
Tanzania adalah negara pertama yang dikunjungi Tetsuko dalam rangka perjalanan kemanusiaan sebagai duta UNICEF. Permasalahan utama negara ini adalah kekeringan. Hujan tidak turun sama sekali di Tanzania sejak 1981. Air merupakan salah satu kebutuhan paling penting bagi manusia. Maka, saat kekeringan panjang melanda negara ini, banyak aspek yang terpengaruh, salah satunya adalah penyediaan gizi bagi anak-anak. Anak-anak di Tanzania begitu kurus karena lama tidak mendapatkan makanan bergizi. Perut membusung, rambut menipis, tanda-tanda pasti untuk menunjukkan seorang anak kekurangan gizi. Tidak ada ekspresi yang terpancar dari wajah mereka. Untuk tersenyum saja sepertinya sudah menjadi tugas yang berat.

Di negara ini, Tetsuko betemu dengan seorang anak perempuan bernama Benedicta. Ia tinggal di panti asuhan. Sejak melihat Tetsuko, Benedicta langsung menempelkan tangannya di wajah Tetsuko. Itu adalah komunikasi pertamanya dengan orang lain setelah bertahun-tahun. Sejak saat itu, Benedicta menjadi anak yang tidak dapat dilupakan oleh Tetsuko.

"Tapi bahkan ketika aku menimang mereka, mereka tidak tersenyum. Butuh nutrisi agar kau bisa tersenyum". (hlm 31)

NIGERIA, 1985
Masih di daratan Afrika, Tetsuko melanjutkan perjalanan kemanusiaannya bersama UNICEF. Nigeria juga mengalami kekeringan panjang sehingga 97,5% sumber air di negara ini kering sama sekali. Padahal, Nigeria berarti "satu sungai besar di antara banyak sungai besar". Sungguh kontras dengan keadaannya saat ini. Berjalan di tengah-tengah daratan Nigeria tidaklah mudah. Selain panas yang luar biasa, di padang pasir sering terjadi badai pasir secara mendadak. Saya pastikan, kamu pasti tidak mau terjebak di tengah badai pasir itu.

INDIA, 1986
Ironi mengetahui bahwa banyak anak-anak India kekurangan gizi, padahal banyak sumber daya alam (juga wisata) yang ada di negara ini. Permasalahan yang sangat penting di negara itu adalah tetanus. Banyak warga yang tidak mengindari bahaya tetanus, sehingga banyak pula nyawa anak-anak yang akhirnya tidak terselamatkan.

Di India, Tetsuko juga mendapat pengalaman berharga tentang kasta, sistem budaya yang masih bertahan di India. Satu hal kecil yang dilakukannya (membantu anak-anak mengikat tali sepatu) ternyata mendapat sorotan begitu besar dari media India. Media (dan masyarakat India) tersentak dengan kenyataan bahwa Duta Kemanusiaan UNICEF begitu mudahnya melewati garis kasta yang selama ini masih begitu ditaati warga India.

MOZAMBIK, 1987
Jika terjadi perang, anak-anak bisa dipastikan menjadi korban yang paling menderita. Begitulah yang terjadi di Mozambik. Anak-anak harus berhati-hati ke manapun mereka pergi. Bahkan saat melangkah mereka juga harus waspada agar tidak menginjak ranjau darat. Anak-anak pun banyak yang terpisah dari orang tua mereka. Tidak ada yang menguntungkan dari sebuah perang.

Selain keempat negara ini, masih ada banyak negara lain yang dikunjungi Tetsuko hingga tahun 1996: Kamboja dan Vietnam, Angola, Banglades, Irak, Etiopia, Sudan, Rwanda, Haiti, dan Bosnia-Herzegovina. Masing-masing negara memiliki ceritanya masing-masing. Begitu banyak pesan kemanusiaan yang disampaikan dalam buku ini. Betapa air menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Bagaimana perang merenggut kebahagiaan sebuah keluarga. Namun, yang saya kagumi, di setiap perjalanan Tetsuko saya menemukan bahwa anak-anak tetap berusaha kuat meski keadaan mereka tidak menyenangkan. Mereka tetap saling memberikan perhatian untuk anak-anak lain, bersemangat untuk bersekolah sambil membantu orang tua mereka bekerja. Bahkan, tak jarang anak-anak mendoakan kebahagiaan bagi Tetsuko. Sungguh indah, anak-anak yang masih saja memperhatikan orang lain bahkan ketika keadaannya sendiri tidak bisa dibilang menyenangkan.

Buku ini memberi begitu banyak pengetahuan, juga perenungan tentang hal-hal sederhana yang kadang tidak kita sadari. Kisah nyata dalam buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca siapa saja.

Tentang penulis:
Tetsuko Kuroyanagi merupakan aktris, penulis, dan ahli panda dari Jepang. Buku pertamanya-yang sekaligus autobiografi, "Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela" meraih sukses di dunia internasional. Kisah Totto-chan merupakan salah satu kisah favorit saya. Tetsuko sempat mengalami masa kecil di tengah perang dunia II. Karena itu, perjalanan kemanusiaan yang dilakukannya sebagai Duta UNICEF menjadi pengalaman yang sangat dekat dengan dirinya.


2 comments:

  1. @Mas Tezar: udah baca Mas? Yup, sedih anak-anak selalu jadi korban...

    ReplyDelete