Saturday, March 30, 2013

[Review] Remember Dhaka

Judul: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 212 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2013

Arjuna Indra Alamsjah tak pernah mengira akan mengalami perjalanan yang sama sekali tak terpikirkan olehnya. Di tengah kegembiraannya merayakan kelulusan SMA, Dewi Agni Alamsjah, kakaknya menyodorkan sebuah rencana yang jauh dari keinginannya. Agni ingin Juna mengikuti Dhaka Education Project, sebuah proyek untuk menjadi relawan di Dhaka. Tugasnya menjadi tenaga pengajar, khususnya di area pemukiman kumuh.

Juna, yang terbiasa hidup mewah, serba kecukupan, dan tinggal perintah jelas menolak rencana ini. Apalagi sebagai salah satu The Alamsjah, ia tak melihat apa pentingnya kegiatan ini. Keluarganya merupakan salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Namun, Agni punya pendapat lain. Selama ini Juna terbiasa hidup enak, hingga sifatnya cenderung egois, tidak mempedulikan orang lain. Karena itulah, Agni menginginkan Juna mengikuti kegiatan ini.

Juna yang awalnya menentang rencana Agni terpaksa harus berangkat ke Dhaka karena terlibat perjanjian dengan sang ayah. Ia akan tinggal di Dhaka selama sebulan, setelah pulang ia boleh melakukan apapun. Selama tinggal di Dhaka, rekening dan kartu kreditnya akan dibekukan. Juna juga tidak boleh menggunakan nama besar Alamsjah untuk mempermudah misi ini. Maka, dimulailah petualangan Juna di Dhaka.

Memulai perjalanan dengan banyak mengeluh bukanlah awal yang bagus, tapi itulah yang dilakukan Juna. Ia banyak mengeluhkan tentang fasilitas, transportasi, dan sebagainya. Beruntung teman-teman relawannya: Emma, Daisy, Thomas, Lee, David, dan Patrick selalu sabar membantu Juna. Bagaimana kelanjutan perjalanan Juna di Dhaka? Berhasilkan pengalaman ini mengubah sifat egois dan keras kepalanya? Simak kelanjutan kisahnya di novel ini.

Sebagai novel yang ditujukan bagi remaja, tema "Remember Dhaka" cukup menarik. Ide cerita yang cukup dalam bagi kehidupan remaja, memadukan ego, kepedulian sosial, dan cinta dalam satu kisah. Alur ceritanya juga mudah diikuti, meski konfliknya cenderung datar. Saya salut sekali pada penulisnya yang telah mendeskripsikan Dhaka dengan begitu detail. Penggambaran suasana, fasilitas, dan tempat-tempat di Dhaka membuktikan riset yang dilakukan penulis cukup kuat. Cover novel ini begitu manis, mampu menarik perhatian banyak orang. Begitu pula dengan pembatas bukunya, berbentuk seekor gajah yang dibuat dari kertas lipat. Untuk poin-poin ini, saya memberikan acungan jempol bagi "Remember Dhaka".

Namun, ada sedikit hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini. Di awal cerita, dikisahkan bahwa Juna tidak boleh menggunakan nama besar Alamsjah untuk mempermudah perjalanannya ke Dhaka. Namun, secara rutin Juna bercerita tentang perjalanan ini di blog-nya. Bukankah itu memberikan kesempatan bagi follower blog-nya, juga pembaca lain untuk mengetahui misi Juna ini? Dan bisa jadi memperbesar kemungkinan bagi Juna mendapatkan bantuan di tengah perjalanan. Ini pendapat pribadi saya saja. Makin ke tengah cerita saya juga bisa jadi lebih menikmati selipan blog Juna ini, jadi sebenarnya tidak terlalu mengganggu ya...

Kedua, di pertengahan cerita dikisahkan Arya, salah satu murid Juna terbiasa memanggil Juna dengan nama saja, tanpa embel-embel "Kak". Hal ini berkaitan dengan budaya di Dhaka yang cukup memanggil orang dengan namanya saja. Namun, mendekati akhir kisah ada dialog antara Arya dan Juna, dan di bagian itu Arya menggunakan kata "Kak". Ini jadi pertanyaan sendiri untuk saya, karena tidak ada penjelasan bahwa Arya sekarang terbiasa menggunakan kata "Kak".

Meski begitu, "Remember Dhaka" tetap saya rekomendasikan untuk dibaca, khususnya bagi para remaja. Novel ini memberikan nilai yang jelas, bahwa selagi muda kita harus banyak berkarya, berbuat sesuatu untuk kehidupan sosial, jangan sibuk dengan urusan diri sendiri. 3/5 bintang untuk perkenalan saya dengan karya Dy Lunaly ini. :)

Favourite Quotes:
- The true happiness is not when you happy because you get what you want but when you make the other happy by doing something to them. Why? God makes the happiness to be shared and not to be enjoyed alone. (hlm 91)
- Dan, melakukan semua kewajiban itu bukanlah untuk-Nya, tapi untuk diriku sendiri. Tuhan tidak pernah membutuhkan apapun dari kita, manusia, hamba-Nya. Kita yang membutuhkan-Nya. Membutuhkan-Nya untuk menguatkan hati kita bahwa kita masih memiliki tempat untuk bergantung dan kembali, dalam kondisi apaun. (hlm 97)
- Tapi, satu yang harus diingat, ikhlas tidak hanya dieja dengan bibir semata, tapi ikhlas harus dieja dengan hati. Sayangnya, mengeja ikhlas dengan hati sangat susah untuk dilakukan. Tapi, bukannya tidak mungkin. (hlm 102)

3 comments:

  1. Luluuuu ak pinjem dong, punya buku bentang belia atau gagas atau bukune nggak? pinjam dong, ehehehe :D

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete