Showing posts with label fiksi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label fiksi Indonesia. Show all posts

Monday, March 16, 2015

[Review] Stasiun

Judul: Stasiun
Penulis: Cynthia Febrina
Penerbit: PlotPoint
Tebal: 188 hlm
Cetakan: I, Juni 2013




Adinda dan Ryan adalah dua dari sekian banyak orang yang menjadi ‘anak kereta’. Setiap hari, keduanya menggunakan KRL dari Stasiun Bogor menuju kantor mereka di Jakarta. Berbeda dengan Ryan yang memang menikmati statusnya sebagai anak kereta, Dinda awalnya justru terpaksa. Kalau bukan karena dia putus dari Rangga, tunangannya, Dinda nggak akan mau repot-repot ke stasiun setiap hari.


Adinda dan Ryan, keduanya ada di stasiun yang sama setiap hari. Namun, mereka menjalani kehidupan masing-masing. Dinda sering menghabiskan waktunya bersama Sasha, sahabatnya. Dia yang awalnya cuek dengan keadaan sekitar lama-kelamaan menjadi lebih peka. Apalagi setelah Dinda mencoba naik kereta ekonomi. Sedangkan Ryan lebih sering berinteraksi dengan pedagang di sekitar stasiun. Banyak pedagang yang akhirnya menjadi kenalan, beberapa di antaranya malah sudah seperti sahabatnya.

Adinda dan Ryan yang asing satu sama lain, akhirnya akan mulai merasakan kehadiran masing-masing. Kisah selengkapnya dapat kamu baca di buku ini.

Jujur saja, buku ini saya ambil dari rak karena covernya yang cantik. Ilustrasi kereta dengan warna-warna sederhana justru membuatnya menarik. Ditambah lagi buku ini tidak terlalu tebal. Pas dengan mood saya yang memang lagi pengen bacaan ringan.

Saya cukup menikmati gaya bahasa yang digunakan penulis, cukup mengalir. Namun, ada satu bagian yang cukup mengganggu. Diceritakan Adinda sedang menunggu kereta datang. Di dekatnya ada pasangan suami istri yang usianya tidak muda lagi. Niat penulis mau menggambarkan adegan romantis di antara keduanya. Tapi bahasa yang digunakan terlalu mendayu-dayu buat saya, tidak pas dengan keadaan sekarang. Mungkin penulis memilih bahasa itu karena tokoh yang sedang berbicara usianya sudah lanjut dan tidak terbiasa dengan bahasa gaul. Tapi tetap kurang pas, dialognya terlalu ganjil buat diucapkan di masa sekarang, di depan umum pula.

Saya bisa merasakan emosi dari konflik yang ada dalam buku ini. Namun, menurut saya terlalu banyak konflik yang dimunculkan. Kadang malah beberapa konflik itu berlalu begitu saja, seperti selingan. Pertemuan Ryan dan Adinda juga terlalu singkat, tapi saya tidak terlalu mempermasalahkannya karena dari awal saya tidak memasukkan buku ini ke genre romance.

Secara keseluruhan, buku ini cukup membuat saya ingin menuntaskannya.Tidak ‘wah’ banget, tapi tidak juga membuat saya berhenti di tengah-tengah. Ditambah cover dan pembatas bukunya yang cantik, akhirnya saya memberikan 3/5 bintang. 

Friday, January 16, 2015

[Review] Mencari Tepi Langit

Judul: Mencari Tepi Langit
Penulis: Fauzan Mukrim
Editor: Gita Romadhona
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Penata Letak: Wahyu Suwarni
Desainer Cover: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2010



Horizon Santi, seorang perempuan yang tak pernah menganggap uang menjadi masalah. Hidup di tengah keluarga berada, dengan dua orang adik, seorang ayah yang sangat baik, dan seorang ibu tiri. Identitas dirinya tiba-tiba terasa kabur ketika mendapati fakta bahwa ia bukanlah anak kandung di keluarga tersebut. Santi langsung memutuskan keluar dari rumah dan bertekad untuk mencari orang tua kandungnya.
 
Senja Senantiasa, seorang pria yang lahir di pagi hari –berkebalikan dengan namanya-. Seorang wartawan yang dimintai tolong oleh Santi untuk mengusut asal-usul orang tuanya. Senja terbiasa bertugas di wilayah konflik ataupun bencana, memiliki adik yang tiba-tiba berseberangan jalan dengannya. 
Pada awalnya, kedua tokoh ini tidak saling kenal. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika Santi meminta tolong Senja untuk membantunya mencari orang tuanya. Itulah konflik pertama di novel ini. Namun, isi novel seterusnya justru banyak menceritakan perjalanan dinas Senja ke berbagai wilayah di Indonesia. Juga hubungan Senja dengan temannya, Ari, dan masa lalunya dengan sang adik.

Friday, August 30, 2013

[Review] 12 Menit

Judul: 12 Menit
Penulis: Oka Aurora
Penggagas Cerita: Regina Septapi
Penyunting: @shinta_read dan @me_dorry
Penyelaras aksara: Fakhri Fauzi, @kaguralian
Penata aksara: elcreative
Perancang sampul: A.A
Penerbit: Noura Books
Tebal: 362 hlm
Cetakan: I, Mei 2013




Apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar buku motivasi? Mungkin sebagian besar akan berpikir tentang genre nonfiksi. Namun, tidak dengan buku yang satu ini. Inspirasi dan motivasinya terjalin rapi dalam cerita fiksi. Mari berkenalan dengan tokoh-tokoh yang akan menemani kita sepanjang novel ini. 

Rene, seorang pelatih marching band profesional. Ia memiliki banyak pengalaman dalam melatih grup marching band. Kepiawaiannya dalam melatih marching band tidak bisa diragukan lagi. Rene telah berkali-kali membuat kelompok yang dilatihnya meraih juara. 

Thursday, August 29, 2013

[Review] Swiss: Little Snow in Zürich

Judul: Swiss: Little Snow in Zürich
Penulis: Alvi Syahrin
Penyunting: Yulliya Febria
Proofreader: Widyawati Oktavia
Penata Letak: Erina Puspitasari
Desainer Sampul: Gita Mariana
Ilustrator Sampul dan Isi: Gama Marhaendra
Penerbit: Bukune
Cetakan: I, Juni ke 2013
Tebal: 308



Yasmine mempunyai rutinitas yang selalu dilakukannya sepulang sekolah. Ia tidak akan langsung pulang, melainkan pergi ke dermaga di tepi Danau Zürich. Bersantai sejenak, memotret obyek-obyek yang menarik baginya. Di sanalah dia bertemu dengan Rakel. Laki-laki yang awalnya hanya duduk berdampingan dengannya tanpa ia kenal. Beberapa kali bertemu tanpa bertegur sapa, akhirnya Yasmine dan Rakel resmi berkenalan. Mereka bisa cepat akrab. Memotret sesuka mereka dan tertawa bersama. Rakel pun mengajak Yasmine melakukan lima hal selama musim dingin. Lima hal yang akan mereka lakukan bersama-sama:

  1. Ice skating selama lima jam penuh
  2. Keliling Distrik 1Zürich
  3. Menginjakkan kaki di Puncak Uetliberg
  4. Keliling Zürich dan menolong orang yang butuh bantuan
  5. Bercerita panjang lebar di Danau Zürich sampai matahari terbit

Wednesday, August 21, 2013

[Review] Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya


Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2013
Tebal: 240 halaman

Saya tidak punya bayangan apapun tentang isi buku ini ketika membaca judulnya. Namun, justru judul yang unik ini membuat saya tertarik membuka lembar demi lembar surat yang dituliskan. Tema besarnya sederhana, tentang tokoh Aku yang jatuh cinta pada teman masa kecilnya. Mari kita panggil Aku dengan Nona Alien dan teman kecil itu sebagai Tuan Alien.

Nona Alien dan Tuan Alien telah terbiasa bersama sejak kecil. Menikmati hari berdua. Merasa berbeda. Mereka merasa telah mengerti satu sama lain tanpa harus banyak berkata. 

Wednesday, July 31, 2013

[Review] Pulang

Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 464 hlm

Ada yang tak bisa pulang... setelah 30 September 1965.

G-30S/PKI menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang tak bisa dilupakan bangsa Indonesia. Begitu banyak cerita di baliknya. Leila S. Chudori mencoba ikut menyimpan kepingan sejarah ini lewat novelnya. Sebuah novel yang ditulis dengan sangat apik, rapi, dan detail.

Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf tak bisa pulang ke Indonesia setelah peristiwa September 1965. Perjalanan ke Santiago yang hanya direncanakan sebagai kunjungan, tak disangka akan menahan mereka untuk pulang. Keadaan politik di Indonesia sedang sangat tidak stabil. Jika mereka berempat pulang, dikhawatirkan mereka akan ikut 'diciduk'.

Keempat sahabat ini bersepakat untuk tinggal di Paris, sementara mencari cara untuk pulang. Dimas Suryo menikah dengan Viviene Deveraux. Dimas menikmati kehidupannya bersama Viviene. Meski begitu, selalu ada rindu di hati Dimas untuk pulang. Untuk melihat seperti apa Indonesia. Untuk mencium aroma cengkih di negerinya sendiri. Sedikit mengobati kerinduan Dimas akan tanah air, ia dan ketiga sahabatnya mendirikan sebuah restoran: Tanah Air. Sebuah bukti bahwa mereka tidak akan melupakan Indonesia, sejauh apapun mereka berada.

Lintang Utara, sebuah nama yang sangat Indonesia tersemat dalam diri gadis ini. Dia adalah putri dari Dimas Suryo dan Viviene. Berbulan-bulan tidak bicara dengan sang ayah, Lintang harus menurunkan egonya untuk bertemu dengan Dimas. Setelah berkonsultasi dengan dosennya, Lintang mendapat tugas akhir untuk membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lebih tepatnya lagi, film tentang G-30S/PKI. Indonesia. Sebuah nama yang sering ia dengar. Sebuah nama yang menjadi sebagian dirinya. Sebuah nama yang terasa begitu akrab, sekaligus begitu asing. Oleh karena itu, sebagai langkah pertama, Lintang menemui ayahnya yang tahu lebih banyak tentang Indonesia.

Pertemuan Lintang dengan sang ayah ternyata membuat gadis ini akhirnya terbang ke Indonesia. Terbang dengan membawa banyak nama. Dia juga membawa banyak pesan dari Dimas, dan ketiga sahabatnya. Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risjaf menitipkan rindu mereka akan tanah air lewat Lintang. Setelah begitu banyak tanda tanya, akhirnya Lintang menapakkan kaki di Indonesia. Begitu banyak rindu yang harus ia sampaikan. Lintang bertemu dengan nama-nama yang sering sekali ia dengar di Paris sana. Juga, bertemu dengan Segara Alam.

***

Peristiwa 30 September 1965 tak habis-habisnya untuk diceritakan. Saya sendiri tidak mengalami langsung, pun (syukurnya) tidak menjadi bagian dari para murid yang dijadwalkan nonton film tentang peristiwa ini setiap tahunnya. Rasanya ngilu membayangkan anak-anak dibawa pergi ke bioskop untuk menyaksikan peristiwa berdarah itu. Sekilas, ide awal "Pulang" ini mengingatkan saya akan kisah seorang mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Rusia. Ia berniat pulang ke Indonesia untuk menikah dengan kekasihnya. Sayangnya, peristiwa berdarah ini membuatnya tertahan di negeri asing. Keinginan untuk bertemu sang kekasih tak bisa diwujudkan. Kisah nyata ini pernah dipentaskan oleh Papermoon Puppet, selengkapnya bisa dibaca di sini.

Kembali lagi tentang novel ini, ringkasan yang saya tulis di awal hanyalah garis besar saja. Masih banyak kisah yang akan ditemui di novel ini. Pun ringkasan itu juga masih jauh dengan ending-nya. Awalnya saya tak yakin bisa menamatkan novel ini. Saya tidak terlalu sering membaca buku-buku bernuansa sejarah. Namun, ternyata saya justru tak bisa berhenti membaca novel ini sejak halaman pertama. Kisah sejarah yang saya pikir akan terlalu berat dan membosankan, ternyata membuat saya betah duduk berlama-lama untuk menuntaskannya. Bahasa yang mengalir membuat saya sangat nyaman ketika membaca novel ini. Membaca novel sejarah maupun berita yang emosional tentang Indonesia, pasti menimbulkan rasa tersendiri bagi saya. Begitu juga dengan novel ini. Kerinduan Dimas akan Indonesia diceritakan dengan begitu apik. Memang, sejauh apapun kita melangkah, kita akan tetap rindu untuk pulang.

Novel ini menggunakan alur maju-mundur, juga multi POV. Meski begitu, saya tidak bingung ketika mengikuti kisah di dalamnya. Saya terlanjur larut dengan cerita Dimas, Lintang, Alam, dan tokoh-tokoh lainnya. Penulis berhasil menceritakan betapa G-30S/PKI memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Indonesia selanjutnya. Begitu banyak orang yang tertahan, tak bisa pulang. Bahkan, generasi selanjutnya yang tidak berkaitan langsung dengan peristiwa ini ikut mendapat akibatnya, karena orang tua mereka merupakan pihak yang diwaspadai. 

Saya sudah membaca beberapa review tentang buku ini. Ada yang menulis Dimas sebagai karakter favoritnya. Ada pula yang memilih Alam. Saya sendiri memilih untuk tidak mempunyai karakter favorit di buku ini. Saya tidak jatuh cinta kepada karakter secara personal. Saya jatuh cinta pada perasaan mereka, terutama pada perasaan Dimas dan teman-teman, yang tak bisa pulang. Saya begitu terhanyut membaca kerinduan mereka akan Indonesia. Mereka menyimpan kenangan tentang Indonesia dengan begitu rapi, dan terus menyimpan keinginan untuk bisa pulang.

Saya menutup novel "Pulang" ini dengan begitu puas. Apalagi, di bagian belakang penulis memberikan banyak sumber yang ia gunakan untuk novel ini. Betul-betul sebuah novel yang dikerjakan dengan detail. Saya merasakan penulis memberikan penghargaan yang besar kepada sumber-sumber yang ia gunakan itu. Oleh karena itu pula, saya jadi lebih menghargai karya ini. Yang pasti, "Pulang" menjadi langkah awal saya untuk lebih mendalami buku-buku bernuansa sejarah. 5 bintang!

Review untuk:
- Posting bareng BBI dengan tema Historical Fiction
- Reading Challenge: Finding New Authors 2013


Monday, July 29, 2013

[Review] 2

Judul: 2
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit:Grasindo
Tebal: 418 hlm
Cetakan: kelima, Januari 2012

Kehadiran Gusni berhasil menambah keceriaan di keluarganya. Dia lahir dengan tubuh yang besar untuk ukuran bayi. Tentu saja, papa dan mamanya senang sekali. Kakak Gusni, Gita, awalnya sempat merasa cemburu dengan kehadiran Gusni. Namun, kecemburuan itu tidak berlangsung lama. Gusni dan Gita tumbuh menjadi sepasang saudara yang saling menyayangi.

Gita tumbuh menjadi atlet bulutangkis yang sukses. Sedangkan Gusni, tumbuh besar setiap tahunnya. Ya, besar dalam arti yang sebenarnya. Berat tubuhnya tidak pernah turun sejak dia lahir. Semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula berat badannya. Gusni tidak terlalu khawatir dengan badan besarnya ini. Namun, tidak begitu dengan papa, mama, dan Gita. Mereka mengetahui ada sesuatu yang salah pada tubuh Gusni.

Gusni, gadis ceria itu, memiliki seorang sahabat bernama Harry. Mereka memiliki banyak kesamaan. Sama-sama bertubuh besar. Sama-sama suka makan onde-onde. Hanya Harry yang boleh memanggil Gusni dengan sebutan Gusni-Gusni, begitu pula sebaliknya. Itulah rahasia di antara mereka.

Gusni, yang tidak pernah mempermasalahkan bentuk tubuhnya, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah kenyataan. Kenyataan yang sangat berpengaruh pada hidupnya Kini, dia harus memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

***

Novel 2 adalah karya kedua Donny Dhirgantoro yang saya baca. Sepertinya, Donny memang suka memasukkan angka sebagai judul bukunya. Novel pertamanya, 5 cm, sudah saya baca beberapa tahun lalu. Saya menikmati membaca novel itu. Sayangnya, hal itu tidak begitu saya rasakan ketika membaca novel ini.

Saya merasa gaya bahasa Donny berbeda sekali dengan novel sebelumnya. Memang tidak ada yang mengharuskan gaya bahasa seorang penulis selalu sama dalam setiap karyanya. Namun saya merasa penulis terlalu banyak melakukan eksperimen dalam tulisannya, yang hasilnya adalah nanggung. Di awal-awal bab, novel ini banyak menyisipkan humor. Sayangnya, menurut saya humor itu kurang berhasil, tidak membuat saya tersenyum, apalagi tertawa. Humor itu hanya terasa sebagai selingan yang kurang penting. 

Mendekati tengah cerita, porsi humor mulai berkurang, meski sekali-sekali tetap ada. Cerita berjalan dengan serius tapi santai. Saya lebih bisa menikmati bagian ini daripada bagian awalnya. Walau, tetap saja, saya tidak begitu nyaman dalam membacanya. 

Untuk ide cerita sendiri, saya senang Donny menulis tentang bulutangkis, sebuah olahraga yang begitu spesial bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Saya bukan penggemar olahraga garis keras. Namun, tetap saja saat-saat kemenangan (atau kekalahan) Indonesia adalah momen yang emosional. Ada beberapa bagian di mana Donny berhasil menuliskan perasaan itu.

Jadi, berapa bintang yang saya berikan untuk buku ini? Sepertinya, 3 bintang cukup. Saya cukup menikmati novel ini, tapi ada beberapa hal yang mengganggu. Seperti humor yang nanggung dan gaya bahasa yang terkadang berlebihan. Tentu saja ini hanya pendapat saya. Melihat novel ini dilabeli sebagai novel best seller, tentu banyak orang yang menyukainya. 

Monday, June 10, 2013

[Review] Coupl(ov)e

Judul: Coupl(ov)e
Penulis: Rhein Fathia
Penyunting: Noni Rosliyani
Perancang sampul: Joko Supomo
Pemeriksa aksara: Kamus Tamar & Pritameani
Penata aksara: BASBAK_Binangkit
Ilustrasi sampul: Shutterstock
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 388 hlm
Cetakan: pertama, Februari 2013

Mungkinkah sebuah pernikahan diawali tanpa cinta?
Halya dan Raka membuktikan kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dengan modal saling percaya, juga rasa nyaman sebagai sahabat, Halya dan Raka mengawali kehidupan pernikahan mereka. Namun, tak seperti pasangan pengantin baru, mereka berdua justru tidur di kamar terpisah. Menikmati kebersamaan layaknya sahabat, persis seperti ketika belum menikah.

Raka yang pertama kali menyadari bahwa pernikahan seharusnya tak berjalan seperti ini. Di sisi lain, Halya juga mulai menyadari hal itu. Namun, lagi-lagi Halya merasa belum siap untuk memulai kehidupan pernikahan seperti pasangan lain. Akhirnya, ia hanya bisa mencurahkan perasaan kepada Puput, sahabatnya di kantor. Begitu pula dengan Raka yang menceritakan problem pernikahannya kepada Gamma.

Cinta masa lalu juga menjadi masalah bagi kehidupan pasangan ini. Halya masih menyimpan kenangan-kenangan manis bersama Gilang, seorang lelaki yang pernah menjadi kekasihnya, bahkan telah melamarnya. Dan Raka tiba-tiba harus dihadapkan pada perasaannya di masa lalu ketika Rina, gadis yang pernah begitu ia cintai, kini tiba-tiba muncul kembali. Lambat laun, pernikahan sepasang sahabat ini terasa semakin rumit. Dan sebelum semuanya terlambat, Halya dan Raka harus cepat-cepat membuat keputusan.

Coupl(ov)e mengangkat kisah tentang sahabat yang akhirnya memutuskan menjadi pasangan. Bukan tema yang baru sebenarnya, sudah banyak diangkat dalam cerita. Namun, Coupl(ov)e bisa menghadirkannya dengan unik dan berbeda. Penuturan kisah dalam Coupl(ov)e ini begitu mengalir. Awalnya, saya kira akan menghabiskan beberapa hari untuk membaca novel ini, karena ukuran font-nya yang lebih kecil daripada novel kebanyakan. Ternyata, dalam waktu semalam saja novel ini sudah berhasil saya tuntaskan. 

Coupl(ov)e terdiri dari empat part. Alurnya maju-mundur bercerita tentang masa-masa Halya dan Raka masih menjadi sahabat, ketika masing-masing memiliki gebetan, dan juga tentang kisah pernikahan mereka. Dengan alur campuran ini, saya tetap bisa menikmati Coupl(ov)e dengan mudah. Persahabatan Halya dan Raka diceritakan dengan begitu seru dan sangat terasa tulus. Ketika mereka berdua akhirnya menikah, rasanya ikut gemes melihat Halya dan Raka bingung harus menempatkan diri seperti apa dalam rumah tangga mereka. Di satu sisi mereka ingin tetap bersikap layaknya sahabat. Di sisi lain, mereka sadar kehidupan rumah tangga harusnya tak seperti ini.

Dalam kebingungan itu, komitmen Halya dan Raka pun akhirnya diuji. Pernikahan seperti apa yang akan mereka berdua bangun, ditambah lagi adanya konflik dari pihak luar. Rhein Fathia menuliskan masalah konflik dan komitmen ini dengan sangat apik. Penuturan konfliknya tidak terburu-buru, membuat saya ikut gemes waktu membacanya.

Selain ide dan alur, karakter dalam Coupl(ov)e juga sangat saya sukai. Halya yang ceria, lincah, aktif mampu mengimbangi Raka yang cenderung pendiam dan kaku. Ah, Raka! Saya suka sekali Raka yang tetap logis dan rasional ketika menyampaikan perasaan. Jarang-jarang kan ada cowok yang mengungkapkan perasaan dan masih sempet ngutip pernyataan dari artikel ilmiah. 

“Aku membaca artikel seorang psikolog yang mengatakan bahwa ketika orang jatuh cinta, otak kanannya akan sangat sibuk. Hal itu mengakibatkan otak kiri, yang biasa memproduksi kata-kata, tidak bisa menyampaikan pesan ke otak kanan dengan baik.”

Jadi geleng-geleng kepala, takjub, sambil membatin “sempet yaaa” :))

Karakter-karakter pendukung dalam Coupl(ov)e juga menyenangkan. Meski bukan tokoh utama, saya merasa Rina, Gilang, Puput, dan Gamma memiliki karakternya yang kuat untuk porsinya masing-masing.

Terakhir, tentang cover Coupl(ov)e yang juga saya suka. Covernya terasa manis dengan judul yang sedikit sulit dibaca tapi justru membuat penasaran. Secara keseluruhan, sebenarnya tidak ada yang mengganggu saya untuk menikmati Coupl(ov)e. Penggunaan bahasa Inggris bisa saya pahami, tapi sepertinya saya akan lebih suka kalau dialognya ditulis dalam Bahasa Indonesia saja. 

Akhirnya, 4/5 bintang untuk kisah Halya dan Raka. Apakah kamu percaya persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya cinta? Mungkin jawabannya akan kamu temukan dalam novel ini :)) 

Sunday, June 9, 2013

[Review] Blue Romance

Judul: Blue Romance
Penulis: Sheva
Penyunting: Donna Widjajanto
Perancang sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Primanilla Serny
Penata aksara: Kuswanto
Desain dan ilustrasi: Diani Apsari, Teguh Pandirian
Penerbit: PlotPoint
Tebal: 216 hlm
Cetakan: Kedua, November 2012

Kopi, kehangatan, dan beragam cerita cinta. Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika melihat cover dan sinopsis buku ini. Benar saja, bercangkir-cangkir kopi telah dihidangkan dalam cerita ini. Beragam jenis kopi didefinisikan dengan apik, masing-masing istimewa dengan caranya sendiri. Seistimewa kisah-kisah yang ditulis Sheva dalam Blue Romance ini.

Lewat buku pertamanya, Blue Romance, Sheva menulis tujuh cerita yang semuanya berhubungan dengan kopi. Ketujuh cerita ini terjadi di sebuah kafe bernama Blue Romance. Sebuah kafe 24 jam di mana banyak orang bisa bertemu di sana, anak sekolah, kuliah, maupun bekerja. Saya suka sekali dengan gaya tulisan Sheva. Tenang, unik, dan manis. Semua kisah dalam Blue Romance ini saya suka. Namun, tentu saja ada beberapa yang menjadi favorit.

Rainy Saturday
Perkenalan unik di sebuah kafe. Saat kita belum bisa memutuskan suka atau tidak pada persahabatan baru ini, tanpa disadari hati kita sudah merasa nyaman. Itulah yang dirasakan tokoh utama dalam Rainy Saturday. Seorang gadis yang selalu menghabiskan Sabtu paginya di Blue Romance. Seorang gadis yang tidak menyukai kejutan. Sabtu itu, ia harus terjebak di Blue Romance karena hujan. Seorang laki-laki menghampirinya, minta izin untuk duduk bersama karena semua tempat sudah penuh. 

Berawal dari keinginan untuk mempertahankan tekad ‘tidak menyukai kejutan’, si gadis justru berkali-kali harus terkejut karena ia nyaman sekali ngobrol dengan si lelaki. Di Sabtu itu, hujan menemani mereka saling mengenal satu sama lain. Sebuah kisah pembuka yang sangat manis, membuat saya ingin cepat-cepat mengintip kisah yang lain.

Blue Moon
Malam itu, Edi begitu merindukan ayahnya. Ia adalah seorang barista di Blue Romance yang sedang mendapat shift tengah malam. Di tengah kerinduannya, ia harus tetap teliti mencampur berbagai bahan untuk membuat kopi yang dipesan pelanggan. Adiknya yang juga bekerja di tempat sama justru tertidur karena lelah. Tak disangka, Blue Romance kedatangan seorang tamu wanita dalam keadaan setengah mabuk. Ia bercerita tentang penyesalannya tak sempat bertemu sang ayah dua hari lalu.

Blue Moon merupakan kisah sederhana yang sangat apik tentang kerinduan terhadap orang tua. Meski kita telah mandiri, orang tua tetap bagian yang tak bisa dipisahkan di hati.

A Farewell to a Dream
Kali ini, Sheva menghadirkan kisah yang sedih tentang cinta segi tiga. Sejak awal pertemuan mereka, Bima langsung menyadari bahwa ia menyukai Anjani. Bima tak pernah lupa bagaimana Anjani memuji-muji tulisannya. Namun, perasaan itu rupanya tak bisa diungkapkan karena Anjani akhirnya berpacaran dengan sahabatnya sendiri, Bram. Bima pun sedikit demi sedikit menjauh dari mereka. Bahkan ia sempat berhenti menulis.

Malam ini, Bima akan kembali bertemu Anjani. Ia kembali ragu harus menghadapi pertemuan ini seperti apa. Apalagi, ternyata malam itu Anjani mengungkapkan sesuatu yang tak pernah dibayangkannya.

The Coffe & Cream Book Club
Bercerita tentang sebuah klub diskusi buku yang didirikan oleh Anya dan Bening. Syarat untuk menjadi klub ini yaitu suka membaca, dan menyukai kopi yang dicampur dengan krimer. Namun, syarat ini dengan mudah dilanggar oleh Jeff, tamu dadakan The Coffe & Cream Book Club yang tidak menyukai krimer. Bening berkali-kali kesal dengan orang ini. Ia tambah kesal ketika anggota klub buku lainnya tidak menyadari ‘kesalahan’ Jeff. Belum habis rasa kesalnya, Bening semakin tidak menyukai Jeff yang dengan mudah membujuk anggota klub buku tentang pertemuan mereka selanjutnya.

Selain empat kisah di atas, masih ada tiga ‘cangkir kopi’ yang bisa dinikmati pembaca Blue Romance. Sejak pertama melihat cover buku ini, saya ingin sekali membacanya. Dan ternyata perkiraan saya tidak salah. Semua kisah dalam buku diramu dengan begitu indah oleh Sheva. Saya semakin kagum ketika mengetahui usia Sheva yang masih begitu muda. Caranya bercerita begitu mengalir, mampu membuat pembaca ‘membangun’ Blue Romance dalam kepalanya masing-masing.

Dari ketujuh cerita dalam Blue Romance, saya melihat ada kecenderungan hampir setiap cerita diawali dengan perkenalan. Perkenalan yang manis, perkenalan yang tak diinginkan, perkenalan yang tak terduga. Semua perkenalan itu akhirnya memiliki jalan cerita yang berbeda dan semuanya menarik untuk diikuti.

Dalam data dirinya, Sheva menulis bahwa ia hobi membaca. Dengan membaca kisah yang ia tulis pun kita sudah bisa mengetahui hobi ini. Lihat saja, ada banyak judul buku yang ada di setiap kisahnya seperti The Great Gatsby dan The Fault in Our Stars. Beberapa judul film dan lagu juga ikut mewarnai hari-hari Blue Romance. Dan yang tak kalah menarik adalah goresan ilustrasi yang menyelingi kisah-kisah Blue Romance ini. Indah sekali!

Rasanya, kopi akan menjadi teman baik di kala hujan. Begitu pula dengan Blue Romance. Siap-siap menikmati keceriaan, kesenduan, jatuh cinta, juga patah hati kala membaca buku ini. 4/5 bintang bagi buku pertama Sheva! 

Posting untuk:

Friday, May 17, 2013

[Review] Pintu Harmonika

[Source: Goodreads]
Judul: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng & Icha Rahmanti
Penerbit: PlotPoint Publishing
Tebal: 307 halaman
Cetakan: Pertama, Januari 2013

Rizal, Juni, dan David memiliki beberapa kesamaan. Mereka bertiga sama-sama tinggal di ruko yang berdekatan. Lantai satu ruko mereka sama-sama digunakan untuk usaha orang tua. Tanpa diduga-duga, mereka sama-sama merasa nyaman menyebut suatu tempat sebagai surga. Surga bagi mereka bukan tempat yang mewah. Surga bagi mereka sangat sederhana. Sebuah tanah kosong yang tenang, tapi mampu menyimpan banyak kenangan. Begitu banyak kisah yang terurai dari surga tersebut. Ini kisah mereka.


Rizal Zaigham Harahap
Rizal, seorang siswa SMA yang populer di kalangan para cewek. Ia juga blogger yang cukup terkenal, bahkan Rizal punya pendukung di dunia maya yang menamakan diri mereka Rizal's Angels. Sebelum pindah ke ruko, Rizal tinggal di rumah kontrakan bersama kedua orang tuanya. Ibunya begitu bahagia ketika mereka akan pindah ke ruko. Sayangnya, ibu Rizal meninggal dunia sebelum merasakan hangatnya suasana keluarga di ruko mereka sendiri. Jadilah Rizal tinggal berdua saja di ruko yang lantai dasarnya telah disulap menjadi Toko Kelontong Firdaus. Rizal sangat menyayangi ayahnya. Menyenangkan membaca dialog mereka yang tidak terlalu kaku. Dialog antara Rizal dan ayahnya mengalir seperti berbicara kepada sahabat.

Surga-tanah kosong itu-bagi Rizal adalah tempat rekreasi juga relaksasi yang tiada duanya. Ia bisa betah berjam-jam duduk di surga bersama laptopnya dan berselancar ke dunia maya. Begitu pula saat ia harus membantu Cynthia mencari dana untuk grup dance-nya. Ya, berawal dari nilai Matematika yang kurang baik, tanpa disangka Rizal harus bekerja sama dengan cewek populer ini.  Ia harus membantu Cynthia mengumpulkan dana untuk grup dance, dengan begitu nilai Rizal bisa jadi lebih baik. Sadar akan kepopulerannya di dunia maya, Rizal memanfaatkan blog-nya untuk aksi penggalangan dana.

Konsentrasi Rizal terpecah. Selain harus membantu Cynthia mencari dana, Rizal juga harus memutar otak agar tidak kehilangan surganya. Entah kenapa, pemilik surga tiba-tiba memasang banyak iklan yang menunjukkan surga akan dijual. Bersama-sama dengan Juni, mereka pun terlibat aksi mendebarkan, aksi menyelamatkan surga. Semua detail tentang aksi ini ia ceritakan dalam blog-nya, yang ia sebut Jurnal (bukan Diary). Lewat jurnal tersebut, kita akan melihat bagaimana Rizal mengalami proses pendewasaan, dewasa dalam hubungan dengan ayahnya, teman sekolah, lingkungan tempat tinggal, juga terhadap dirinya sendiri.

Juni Shahnaz
Gadis tomboi yang suka membaca buku detektif. Juni suka menelusuri halaman demi halaman kisah detektif bersama David. Ia gadis yang cerdas. Sayangnya, pergaulannya di sekolah tidak begitu menyenangkan. Setelah merasakan menjadi korban bullying, Juni menjadi lebih agresif dan menjadi pelaku bullying. Juni pun di-skors dari sekolah. Tak disangka, tindakan Juni ini mengancam usaha sablon ayahnya. Komunikasi Juni dan ayahnya menjadi memburuk. Ia merasa bersalah, tapi juga masih kacau dengan pikirannya sendiri.

Di tengah kekacauan itu, Juni masih harus memikirkan bagaimana agar surga mereka tak diambil orang lain. Petualangan bersama Rizal pun dimulai. Beberapa cara dilakukan agar surga mereka tetap ada di situ, tetap menjadi tanah kosong yang aman bagi mereka. Di luar masalah surga, Rizal rupanya mampu menularkan semangat menulis kepada Juni. Sehari-hari Juni bercerita tentang pengalaman dan perasaannya lewat jurnal yang ia sebut Catatan harian Seorang Tahanan Rumah. Simak semua curahan hati Juni di jurnal ini.

David Christian Hadijaja
Anggota termuda penghuni surga. Terobsesi menjadi detektif setelah membaca buku-buku detektif milik Juni. Ia tak mau disamakan dengan anak-anak lainnya. David selalu merasa lebih dewasa dari anak-anak seusianya. David tinggal bersama ibunya yang memiliki usaha toko kue. Angels's cookies buatan ibu David adalah kue yang paling terkenal. Namun, entah kenapa tiba-tiba senyum yang biasanya ada di angel's cookies tiba-tiba tidak digambar lagi. Naluri detektif yang dimiliki David membuatnya ingin memecahkan misteri itu. Apalagi ia merasa ibunya tidak mau mengatakan yang sebenarnya.

Sama seperti Rizal dan Juni, David sangat mencintai surga. Oleh karenanya, tak heran kalau David sangat kesal ketika diam-diam tahu ia tidak diajak dalam misi menyelamatkan surga. Meski begitu, David tetap ingin membantu Rizal dan Juni. Tanpa mereka ketahui, David sudah membantu Rizal dan Juni agar tidak ketahuan petugas ketika melakukan misi tersebut. 

Di tengah keseruan misi penyelamatan surga, David mengalami banyak hal aneh. Tiba-tiba ia mendengar suara dari atap dan menemukan bulu hitam yang misterius. Ibu David juga semakin hari terlihat semakin kurus, lesu, dan tidak bersemangat. Ia bertekad akan mengungkap kejadian aneh ini. Semua kecurigaannya dapat kita simak dalam Catatan David Christian Hadijaja aka David Edogawa.

Pintu Harmonika pada awalnya adalah skenario film dengan judul sama yang kemudian
Source
diadaptasi menjadi sebuah buku. Dalam novel ini, kita diajak memahami cerita dari tiga sudut pandang: Rizal, Juni, dan David. Saya suka dengan ide kisah ini. Menggabungkan antara ekspresi remaja, hubungan dengan orang tua, dan pergaulannya dengan teman-teman. Saya jarang menemukan novel remaja yang membahas tema seperti ini.


Setiap sudut pandang dalam novel ini memiliki ciri masing-masing. Rizal, seorang remaja populer yang aktif dengan social media terlihat paling atraktif. Pede, gampang bersosialisasi. Rizal lebih suka menyebut dirinya dengan 'gue'. Berbeda dengan Juni yang lebih tertutup. Ia suka larut dengan pikirannya sendiri. Tak mengetahui apa pentingnya sebuah jurnal sampai Rizal menularinya untuk menulis. Juni menyebut dirinya sebagai 'aku'. David, karakter paling imut dalam novel ini. Semangatnya meledak-ledak, apalagi kalau sudah menyangkut petualangan ala detektif. David sangat dekat dengan mamanya. Ia menulis dirinya sebagai 'saya'.

Tiga sudut pandang ini diceritakan begitu apik dalam Pintu Harmonika. Ciri masing-masing karakter sangat terlihat bedanya. Jurnal dari satu karakter akan menjadi pelengkap informasi dari jurnal karakter lainnya. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati membaca novel ini. Apalagi cover novel ini sangat cantik, benar-benar menggambarkan cerita. Tiga deret ruko, masing-masing milik Rizal, Juni, dan David. Jika cover-nya kita buka, akan terlihat tanah kosong yang mereka sebut sebagai surga. Paduan warnanya juga sangat menarik. Salut untuk tim PlotPoint untuk cover yang cantik ini.

Namun, ada sedikit hal yang mengganjal ketika saya membaca novel ini. Di awal cerita, dikisahkan nilai Matematika Rizal kurang memuaskan, oleh karenanya ia disarankan untu membantu grup dance Chyntia mencari dana. Kalau kekurangan dana tersebut bisa tercukupi, nilai Matematika Rizal akan bertambah. Ini jadi pertanyaan bagi saya. Kalau memang masalahnya adalah nilai, kenapa penyelesaiaannya dengan membantu aksi penggalangan dana? Kenapa gurunya tidak menyarankan untuk remedial saja? Memang disebutkan bahwa Rizal sangat populer sehingga ia bisa sangat membantu penggalangan dana agar sukses. Tapi tetap saja poin itu cukup mengganjal bagi saya.

Meski begitu, keseluruhan cerita Pintu Harmonika ini sangat menarik. Apalagi di akhir saya mendapatkan ending yang tak terduga. Banyak nilai yang bisa didapat dari novel ini. Bahwa pencitraan bukanlah jalan yang tepat untuk membuat orang-orang menyukai kita. Bahwa kita tidak boleh egois, harus belajar melihat suatu masalah sari banyak sudut pandang. Bagaimana para tokoh membangun hubungan dengan orang tuanya juga menjadi nilai tersendiri yang dapat diambil dari novel ini. 3 (+1 bintang untuk cover) saya berikan untuk novel ini :)

Posting untuk:


Buku ini saya rekomendasikan dibaca anak-anak mulai usia 14 tahun. Banyak pesan moral yang bisa didapat anak-anak (maupun remaja) dari novel ini.

Saturday, March 30, 2013

[Review] Remember Dhaka

Judul: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 212 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2013

Arjuna Indra Alamsjah tak pernah mengira akan mengalami perjalanan yang sama sekali tak terpikirkan olehnya. Di tengah kegembiraannya merayakan kelulusan SMA, Dewi Agni Alamsjah, kakaknya menyodorkan sebuah rencana yang jauh dari keinginannya. Agni ingin Juna mengikuti Dhaka Education Project, sebuah proyek untuk menjadi relawan di Dhaka. Tugasnya menjadi tenaga pengajar, khususnya di area pemukiman kumuh.

Juna, yang terbiasa hidup mewah, serba kecukupan, dan tinggal perintah jelas menolak rencana ini. Apalagi sebagai salah satu The Alamsjah, ia tak melihat apa pentingnya kegiatan ini. Keluarganya merupakan salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Namun, Agni punya pendapat lain. Selama ini Juna terbiasa hidup enak, hingga sifatnya cenderung egois, tidak mempedulikan orang lain. Karena itulah, Agni menginginkan Juna mengikuti kegiatan ini.

Juna yang awalnya menentang rencana Agni terpaksa harus berangkat ke Dhaka karena terlibat perjanjian dengan sang ayah. Ia akan tinggal di Dhaka selama sebulan, setelah pulang ia boleh melakukan apapun. Selama tinggal di Dhaka, rekening dan kartu kreditnya akan dibekukan. Juna juga tidak boleh menggunakan nama besar Alamsjah untuk mempermudah misi ini. Maka, dimulailah petualangan Juna di Dhaka.

Memulai perjalanan dengan banyak mengeluh bukanlah awal yang bagus, tapi itulah yang dilakukan Juna. Ia banyak mengeluhkan tentang fasilitas, transportasi, dan sebagainya. Beruntung teman-teman relawannya: Emma, Daisy, Thomas, Lee, David, dan Patrick selalu sabar membantu Juna. Bagaimana kelanjutan perjalanan Juna di Dhaka? Berhasilkan pengalaman ini mengubah sifat egois dan keras kepalanya? Simak kelanjutan kisahnya di novel ini.

Sebagai novel yang ditujukan bagi remaja, tema "Remember Dhaka" cukup menarik. Ide cerita yang cukup dalam bagi kehidupan remaja, memadukan ego, kepedulian sosial, dan cinta dalam satu kisah. Alur ceritanya juga mudah diikuti, meski konfliknya cenderung datar. Saya salut sekali pada penulisnya yang telah mendeskripsikan Dhaka dengan begitu detail. Penggambaran suasana, fasilitas, dan tempat-tempat di Dhaka membuktikan riset yang dilakukan penulis cukup kuat. Cover novel ini begitu manis, mampu menarik perhatian banyak orang. Begitu pula dengan pembatas bukunya, berbentuk seekor gajah yang dibuat dari kertas lipat. Untuk poin-poin ini, saya memberikan acungan jempol bagi "Remember Dhaka".

Namun, ada sedikit hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini. Di awal cerita, dikisahkan bahwa Juna tidak boleh menggunakan nama besar Alamsjah untuk mempermudah perjalanannya ke Dhaka. Namun, secara rutin Juna bercerita tentang perjalanan ini di blog-nya. Bukankah itu memberikan kesempatan bagi follower blog-nya, juga pembaca lain untuk mengetahui misi Juna ini? Dan bisa jadi memperbesar kemungkinan bagi Juna mendapatkan bantuan di tengah perjalanan. Ini pendapat pribadi saya saja. Makin ke tengah cerita saya juga bisa jadi lebih menikmati selipan blog Juna ini, jadi sebenarnya tidak terlalu mengganggu ya...

Kedua, di pertengahan cerita dikisahkan Arya, salah satu murid Juna terbiasa memanggil Juna dengan nama saja, tanpa embel-embel "Kak". Hal ini berkaitan dengan budaya di Dhaka yang cukup memanggil orang dengan namanya saja. Namun, mendekati akhir kisah ada dialog antara Arya dan Juna, dan di bagian itu Arya menggunakan kata "Kak". Ini jadi pertanyaan sendiri untuk saya, karena tidak ada penjelasan bahwa Arya sekarang terbiasa menggunakan kata "Kak".

Meski begitu, "Remember Dhaka" tetap saya rekomendasikan untuk dibaca, khususnya bagi para remaja. Novel ini memberikan nilai yang jelas, bahwa selagi muda kita harus banyak berkarya, berbuat sesuatu untuk kehidupan sosial, jangan sibuk dengan urusan diri sendiri. 3/5 bintang untuk perkenalan saya dengan karya Dy Lunaly ini. :)

Favourite Quotes:
- The true happiness is not when you happy because you get what you want but when you make the other happy by doing something to them. Why? God makes the happiness to be shared and not to be enjoyed alone. (hlm 91)
- Dan, melakukan semua kewajiban itu bukanlah untuk-Nya, tapi untuk diriku sendiri. Tuhan tidak pernah membutuhkan apapun dari kita, manusia, hamba-Nya. Kita yang membutuhkan-Nya. Membutuhkan-Nya untuk menguatkan hati kita bahwa kita masih memiliki tempat untuk bergantung dan kembali, dalam kondisi apaun. (hlm 97)
- Tapi, satu yang harus diingat, ikhlas tidak hanya dieja dengan bibir semata, tapi ikhlas harus dieja dengan hati. Sayangnya, mengeja ikhlas dengan hati sangat susah untuk dilakukan. Tapi, bukannya tidak mungkin. (hlm 102)

Thursday, February 28, 2013

[Review] Bukan Pasarmalam

Judul: Bukan Pasarmalam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 104 hlm
Cetakan ke: 9, Oktober 2010

Seorang anak laki-laki tertua yang sudah begitu lama merantau akhirnya tergerak untuk kembali pulang mendengar kabar bahwa sang ayah sedang sakit. Bersama istrinya, ia menyusuri jalan-jalan yang mengingatkan ia pada kehidupan masa kecilnya. Sesampainya di rumah, ia mendapati kondisi sang ayah sudah begitu buruk. Sudah berhari-hari sang ayah berada di rumah sakit, dan sangat sulit untuk membujuknya makan.

Berada di kampung halaman lagi setelah sekian lama memunculkan emosi yang beragam bagi tokoh utama. Ia bernostalgia dengan masa kecilnya, menikmati kerinduannya pada rumah, tapi juga dikejar-kejar perasaan cemas memikirkan sang ayah. Ditambah lagi, ia juga memikirkan pekerjaan di kota yang telah ditinggalkannya selama pulang ke rumah.

Kehidupan ayah tak berangsur membaik setelah berhari-hari. Terkadang ayah tiba-tiba ingin makan sesuatu tapi pada akhirnya hanya satu atau dua suap saja yang masuk ke mulutnya. Apalagi ayah justru selalu minta minum es yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan ketentuan dari dokter. Namun, apa daya sebagai anak pada akhirnya berusaha untuk mengabulkan keinginan tersebut.

Novel tipis yang penuh emosi ini adalah persentuhan pertama saya dengan karya Pramoedya Ananta Toer. Saya sangat menikmati membaca karya sastrawan besar Indonesia ini. Konflik yang begitu nyata, dengan penuturan yang penuh emosi membuat pengalaman pertama membaca karya Pram begitu menyenangkan. Kedekatan ayah dan anak-anak yang menjadi garis besar dalam novel ini juga digambarkan dengan begitu bagus.

Terkadang saya juga dikejutkan dengan pemilihan kata-kata yang digunakan Pram dalam karyanya ini. Meski sangat jauh dengan gaya penuturan kisah saat ini, toh saya tetap dapat menikmatinya. Pemaknaan Pram terhadap rumah sakit menjadi favorit saya sepanjang buku ini.
Dan dengan langkah berat pergilah aku meninggalkan rumah sakit itu- rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.
(Hal 48) 
Sebenarnya, sudah begitu lama saya ingin membaca karya Pram. Tapi keinginan itu selalu tertunda, dan tergoda buku lain :p Akhirnya, bulan ini saya bisa menuntaskan perkenalan dengan karya Pram. Terima kasih untuk BBI dan event baca barengnya yang keren. Untuk karya pertama Pram yang saya baca ini, saya berikan 4/5 bintang!



[Review] Si Dul Anak Betawi

Judul: Si Dul Anak Betawi
Penulis: H. Aman Datuk Madjoindo
Penerbit: Balai Pustaka
Tebal: 86 hlm
Cetakan ke: 23, 2006

Abdoel Hamid adalah nama tokoh utama kita kali ini. Namun, ia lebih sering dipanggil Si Dul oleh keluarga dan temannya. Si Dul tinggal bertiga dengan nyak (ibu) dan babenya (bapak). Nyak tiap hari tinggal di rumah sedangkan babe menjadi sopir bus kota. Seperti kebanyakan anak-anak, tiap hari Si Dul bermain dengan teman-temannya. Agar bisa main bareng dengan teman-teman, kadang Si Dul harus kucing-kucingan dengan nyaknya. Walaupun nyak menyuruh Dul tinggal di rumah saja, kadang ia mencari akal untuk ketemu teman-temannya.

Kehidupan Dul berjalan lancar dan menyenangkan hingga suatu hari datang kabar yang mengejutkan dari babe. Teman babe datang ke rumah dan mengabarkan kalau babe meninggal akibat kecelakaan. Kepergian babe sangat berpengaruh bagi kehidupan nyak dan Dul. Nyak jadi tidak bersemangat untuk menjalani hidup, dan sakit karena tidak mau makan. Di tengah cobaan tersebut, Dul mencoba untuk tegar dan membantu sebisanya untuk kelangsungan hidup mereka.

Bagaimana akhirnya kehidupan Dul dan nyak? Apakah mereka bisa bangkit setelah kepergian babe? Jawabannya bisa ditemukan di buku ini.

Saat membuat daftar bacaan Fun Year Event With Children's Literature kategori klasik, saya baru tersadar bahwa tidak ada karya klasik asli Indonesia yang masuk ke daftar. Oleh karenanya, melihat buku ini, dengan dilabeli tulisan 'Sastra Klasik', saya langsung tertarik untuk membacanya. Apalagi tokoh Si Dul sudah begitu akrab bagi masyarakat Indonesia. 

Sayangnya, setelah membaca kisah Si Dul, saya menyimpulkan buku ini bukan cerita favorit saya. Saya melihat begitu banyak adegan pertengkaran Dul teman-temannya dalam buku ini. Bahkan, adegan pertengkaran tersebut diceritakan begitu detail mulai dari kata-kata hingga sikap mereka. Menurut saya, adegan seperti itu kurang cocok bagi buku anak-anak. Saya pribadi sangat menyayangkan adanya adegan pertengkaran semacam itu, mengingat karya ini merupakan karya besar dari Indonesia.

Dari segi cerita, saya juga merasa alur dalam buku ini sangat lambat. Saya sendiri sempat meninggalkan buku ini dan membaca buku lain sebagai selingan, baru kemudian melanjutkan kisah Si Dul ini. Meski begitu, tetap ada kesan moral yang bisa diambil. Saya melihat karakter Dul mengalami perkembangan. Di awal cerita, ia adalah tipe anak jahil yang sukanya bermain saja, tapi semenjak ditinggal babe ia jadi lebih dewasa dan berinisiatif untuk membantu nyak, meski sifatnya yang mudah emosi tetap ada.

Keseluruhan kisah Si Dul ini diceritakan dalam bahasa Betawi. Kadang saya bingung juga berusaha memahami artinya, tapi tetap bisa dimengerti akhirnya. Mengingat banyaknya adegan pertengkaran, juga bahasa yang cukup sulit, menurut saya buku ini bisa dibaca oleh anak berusia 13 tahun ke atas. Tentu saja lebih baik bila didampingi orang tua. Dan akhirnya, 3/5 bintang untuk kisah klasik asli Indonesia ini. 

Review ini diikutkan dalam Fun Year With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)




Juga untuk:




Tuesday, January 15, 2013

[Review] Perjalanan Rasa

Judul: Perjalanan Rasa
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Kurniaesa Publishing
Tebal: 203 hlm
Cetakan: Pertama, November 2012

Finally, another Fahd Djibran's book. Perjalanan Rasa adalah karya Fahd Djibran yang saya baca setelah A Cat in My Eyes dan Rahim. Saya selalu suka cara bertuturnya. Walaupun di buku ini jelas-jelas tertera genrenya adalah novel, saya lebih suka menyebutnya sebagai kumpulan renungan. Bagi saya, buku ini seakan mengajak kita berdialog, dalam sudut pandang yang berubah-ubah. Kadang Fahd Djibran menulis 'aku', kadang  berbincang dengan kita lewat sapaan 'kamu', terkadang pula menyisipkan kisahnya bersama keluarga. Bisa juga dibilang, membaca Perjalanan Rasa layaknya berbincang dengan diri sendiri. 

Ada beberapa hal menarik yang saya temui di buku ini:
  • Setelah baca beberapa bab, saya baru sadar kalau kata terakhir dari suatu bab akan jadi judul pada bab berikutnya. Unik! Sekilas bukunya terkesan tidak punya alur yang jelas, tapi ternyata justru alur yang ada sangat mengalir lewat judul di setiap bab.
  • Implisit! Ya, setiap membaca karya Fahd Djibran saya pasti mendapat kesan ada pesan-pesan implisit dalam setiap tulisannya. Makanya, bisa jadi setiap kisahnya harus dibaca pelan-pelan agar pesannya nggak ketinggalan.
  • Religius-universal. Entah tepat atau tidak pemilihan kata yang saya gunakan, tapi memang itu yang saya rasakan. Fahd Djibran selalu menyisipkan kisah tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, lingkungan, juga Tuhan. Tapi caranya bercerita (menurut saya) bisa dimengerti oleh agama apapun.
  • Dialog yang lebih dewasa, mungkin karena penulis sendiri sekarang sudah jadi ayah ya.. Fahd Djibran banyak bercerita tentang istrinya, anaknya, juga kehidupan mereka. Saya baca A Cat in My Eyes tahun 2008, saya bandingkan dengan Perjalanan Rasa ini, memang terasa ada yang berbeda.
  • Kutipan-kutipan favorit. Sepertinya memang sudah ciri khasnya Fahd Djibran untuk membuat kata-kata indah, mengajak pembacanya mengangguk-angguk bersama, dan bikin pembaca pengen nulis ulang kutipan yang dia buat. 

Oya, saya suka sekali dengan halaman persembahan yang ditulis Fahd Djibran untuk anaknya, Falsafa Kalky Pahdepie. Trenyuh, terharu, penuh doa dan harapan, indah pokoknya.
belajarlah dalam kesabaran Ayub
berjalanlah bersama keberanian Ibrahim
bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman
taklukkan dunia dengan ketangguhan Musa
himpunlah semua kebijaksanaan Yakub
katakanlah kebenaran semerdu suara Daud
kasihilah sesama sepenuh cinta Isa
lalu masukilah kebeningan dirimu
bersama ketakwaan Muhammad

Buku ini cocok dibaca siapa saja yang ingin menyelami berbagai perasaan, menjajal perjalanan rasanya sendiri. Siap-siap dibawa ke masa lalu, diajak berdiskusi dengan fenomena masa kini, bisa juga jadi galau karena merasa ada kemiripan kisah. Sayang, bintang yang ingin saya berikan harus berkurang karena cukup banyak kesalahan penulisan. Akhirnya, saya berikan 3/5 bintang untuk buku ini. Selamat menjelajahi perjalanan rasamu!

"Semoga Tuhan mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya"

Wednesday, January 2, 2013

[Review] A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa


Judul     : A Cat In My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa
Penulis  : Fahd Djibran
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 162 halaman
Cetakan:  Pertama, 2008

Membaca judulnya sepintas, dimana kucing dijadikan salah satu tokoh utama, cukup menimbulkan rasa penasaran mengenai isi bukunya. Ada apa dengan seekor kucing? Atau mata kucing? Pertanyaan-pertanyaan itu sedikit demi sedikit akan terjawab ketika membaca lembaran-lembaran dalam buku ini. Tentu saja buku ini tidak melulu berbicara tentang kucing. Mata kucing dalam buku ini diibaratkan sebagai makhluk yang selalu bertanya-tanya, yang tidak akan kehabisan bahan untuk dipertanyakan.

Dibalut dalam 27 kisah yang dengan sederhana sekaligus mendalam berbicara tentang Tuhan, hidup, dan cinta. Sederhana karena masalah yang diangkat dalam buku ini cukup akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Mendalam karena ternyata dari kisah sederhana tersebut tersimpan makna yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Lihat saja dalam salah satu kisah yang berjudul ”Tubuh”, yang juga menjadi kisah pembuka dalam buku ini. Kisah ini berusaha mencari definisi atau arti yang tepat tentang satu kata, yaitu cantik. Kata yang tentu tidak asing bagi kita. Namun buku ini mampu mengungkapkan betapa sulitnya usaha sang tokoh utama untuk menemukan definisi yang paling tepat tentang satu kata itu, padahal sesungguhnya apa yang mereka cari juga tidak jauh dari kehidupan mereka.

Lihat pula kisah yang berjudul ”A Cat In Your Eyes”. Kisah ini menceritakan dua perlakuan berbeda terhadap seekor kucing dan seorang manusia yang tertabrak mati oleh sebuah mobil. Menabrak kucing yang masih dipercaya sebagai pertanda buruk membuat bangkainya diperlakukan lebih manusiawi daripada seorang manusia yang tertabrak mobil yang sama. Kisah ini bisa dijadikan cerminan bagi masyarakat Indonesia yang masih cukup percaya dengan berbagai mitos sehingga bisa mengesampingkan perasaanya sebagai seorang manusia.

Di samping dua judul di atas, masih ada 25 judul lain yang patut Anda selami, di antaranya adalah ”Matamu yang Sepi”, ”Kepada R”, ”Ke Manakah Kau Siang Tadi, Tuhan?”, dan ”5 untuk Bunda”. Membaca kisah-kisah dalam buku ini akan membuat Anda menemukan makna dan sudut pandang yang lain atas kejadian yang sebenarnya tidak asing. Kejadian dan perasaan yang sangat manusiawi, misalnya merindukan kekasih, akan diceritakan sangat apik dalam buku ini.

Fahd Djibran telah berhasil membuat buku ini menjadi sebuah paket lengkap berisi hubungan manusia dengan Tuhan, dirinya sendiri, lingkungan sosialnya, bahkan dengan hal-hal abstrak semisal waktu. Kisah hidup sehari-hari yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan secara mendalam berhasil dikemasnya dalam bahasa yang cerdas sehingga bisa dilihat segi kompleksitasnya. Hal ini diamini pula oleh Dewi ’Dee’ Lestari, penyanyi sekaligus novelis, yang turut memberikan komentarnya akan buku ini.

Buku ini bisa pula dijadikan renungan mengenai hal-hal yang semakin marak terjadi belakangan ini, misalnya mengenai kriminalitas yang semakin menjadi-jadi. Kisah cinta masa kecil pun turut pula disertakan oleh Fahd Djibran, menggambarkan betapa polosnya seorang anak kecil yang baru menyadari bahwa ada sesuatu yang disebut ”menyukai seseorang”. Secara garis besar, buku ini benar-benar berbicara mengenai realitas yang cenderung disimpan rapat-rapat dan kita sendiri pun merasa berat untuk mengakuinya.

Pertama kali melihat sampul bukunya, lucu dan unik, dua kesan itulah yang hinggap di kepala saya. Pemandangan jalan raya yang sepi dan seekor kucing di bagian tengahnya, dengan latar langit biru yang cerah membuat saya menerka-nerka isi di dalamnya. Rasa penasaran itu bertambah ketika mengetahui bahwa buku dengan sampul yang lucu ini dilabeli dengan kategori sastra.

Label sastra dalam buku ini memang tidak main-main. Terkadang untuk memahami satu kalimat atau satu judul, tak cukup hanya dengan membacanya satu kali saja. Namun, bukan berarti pula buku ini hanya cocok dinikmati para penggila sastra dan pembaca setia buku sastra. Usaha yang perlu dilakukan pembaca untuk mencari makna apa yang sebenarnya ingin diungkapkan Fahd Djibran membuat buku ini pantas dibaca siapa saja yang selalu ingin mencoba hal baru. Bahasa yang terkadang lugas, terkadang pula rumit membuat kita semakin bertanya-tanya dan ingin segera menuntaskan rasa ingin tahu kita.

Namun, ada kelebihan tentu ada pula kekurangan. Ada yang mengganjal bagi saya ketika membaca buku ini. Rasa ingin tahu yang terus-menerus ditimbulkan oleh buku ini memang bagus. Akan tetapi, hal itu bisa menjadi suatu kebingungan karena terasa buku ini kurang memiliki alur dalam ceritanya. Sebagai contoh ada beberapa kisah yang bercerita tentang bunda tetapi kedua kisah tersebut harus terpisah cukup jauh dengan diselingi kisah-kisah lain di antara keduanya. Penempatan seperti ini bisa membuat pembaca kesulitan dalam mengatur alur pikiran.

Terlepas dari kelebihan maupun kekurangan dalam buku ini, ”A Cat In My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa” tetap bisa menjadi pilihan bagi Anda yang gemar bertanya. Gemar mencari dan mengetahui lebih dalam lagi mengenai Tuhan, hidup, dan cinta. Jadi, jika Anda menyimpan banyak pertanyaan yang tak jauh-jauh dari kehidupan kita, buku ini bisa menjadi salah satu referensi Anda untuk menemukan jawaban atau justru membuat pertanyaan Anda semakin berkembang. Teruslah bertanya, karena bertanya tak membuatmu berdosa bukan?