Judul: Anak-Anak Totto-chan, Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 hlm
Cetakan: IV, Oktober 2010
Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris, penulis, dan ahli panda asal Jepang ditawari menjadi Duta Kemanusiaan oleh United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF). Kecintaannya terhadap anak-anak membuatnya langsung mengiyakan tawaran itu. Maka, dimulailah perjalanan kemanusiaan Tetsuko ke negara-negara miskin di berbagai benua.
TANZANIA, 1984
Tanzania adalah negara pertama yang dikunjungi Tetsuko dalam rangka perjalanan kemanusiaan sebagai duta UNICEF. Permasalahan utama negara ini adalah kekeringan. Hujan tidak turun sama sekali di Tanzania sejak 1981. Air merupakan salah satu kebutuhan paling penting bagi manusia. Maka, saat kekeringan panjang melanda negara ini, banyak aspek yang terpengaruh, salah satunya adalah penyediaan gizi bagi anak-anak. Anak-anak di Tanzania begitu kurus karena lama tidak mendapatkan makanan bergizi. Perut membusung, rambut menipis, tanda-tanda pasti untuk menunjukkan seorang anak kekurangan gizi. Tidak ada ekspresi yang terpancar dari wajah mereka. Untuk tersenyum saja sepertinya sudah menjadi tugas yang berat.
Di negara ini, Tetsuko betemu dengan seorang anak perempuan bernama Benedicta. Ia tinggal di panti asuhan. Sejak melihat Tetsuko, Benedicta langsung menempelkan tangannya di wajah Tetsuko. Itu adalah komunikasi pertamanya dengan orang lain setelah bertahun-tahun. Sejak saat itu, Benedicta menjadi anak yang tidak dapat dilupakan oleh Tetsuko.
"Tapi bahkan ketika aku menimang mereka, mereka tidak tersenyum. Butuh nutrisi agar kau bisa tersenyum". (hlm 31)
NIGERIA, 1985
Masih di daratan Afrika, Tetsuko melanjutkan perjalanan kemanusiaannya bersama UNICEF. Nigeria juga mengalami kekeringan panjang sehingga 97,5% sumber air di negara ini kering sama sekali. Padahal, Nigeria berarti "satu sungai besar di antara banyak sungai besar". Sungguh kontras dengan keadaannya saat ini. Berjalan di tengah-tengah daratan Nigeria tidaklah mudah. Selain panas yang luar biasa, di padang pasir sering terjadi badai pasir secara mendadak. Saya pastikan, kamu pasti tidak mau terjebak di tengah badai pasir itu.
INDIA, 1986
Ironi mengetahui bahwa banyak anak-anak India kekurangan gizi, padahal banyak sumber daya alam (juga wisata) yang ada di negara ini. Permasalahan yang sangat penting di negara itu adalah tetanus. Banyak warga yang tidak mengindari bahaya tetanus, sehingga banyak pula nyawa anak-anak yang akhirnya tidak terselamatkan.
Di India, Tetsuko juga mendapat pengalaman berharga tentang kasta, sistem budaya yang masih bertahan di India. Satu hal kecil yang dilakukannya (membantu anak-anak mengikat tali sepatu) ternyata mendapat sorotan begitu besar dari media India. Media (dan masyarakat India) tersentak dengan kenyataan bahwa Duta Kemanusiaan UNICEF begitu mudahnya melewati garis kasta yang selama ini masih begitu ditaati warga India.
MOZAMBIK, 1987
Jika terjadi perang, anak-anak bisa dipastikan menjadi korban yang paling menderita. Begitulah yang terjadi di Mozambik. Anak-anak harus berhati-hati ke manapun mereka pergi. Bahkan saat melangkah mereka juga harus waspada agar tidak menginjak ranjau darat. Anak-anak pun banyak yang terpisah dari orang tua mereka. Tidak ada yang menguntungkan dari sebuah perang.
Selain keempat negara ini, masih ada banyak negara lain yang dikunjungi Tetsuko hingga tahun 1996: Kamboja dan Vietnam, Angola, Banglades, Irak, Etiopia, Sudan, Rwanda, Haiti, dan Bosnia-Herzegovina. Masing-masing negara memiliki ceritanya masing-masing. Begitu banyak pesan kemanusiaan yang disampaikan dalam buku ini. Betapa air menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Bagaimana perang merenggut kebahagiaan sebuah keluarga. Namun, yang saya kagumi, di setiap perjalanan Tetsuko saya menemukan bahwa anak-anak tetap berusaha kuat meski keadaan mereka tidak menyenangkan. Mereka tetap saling memberikan perhatian untuk anak-anak lain, bersemangat untuk bersekolah sambil membantu orang tua mereka bekerja. Bahkan, tak jarang anak-anak mendoakan kebahagiaan bagi Tetsuko. Sungguh indah, anak-anak yang masih saja memperhatikan orang lain bahkan ketika keadaannya sendiri tidak bisa dibilang menyenangkan.
Buku ini memberi begitu banyak pengetahuan, juga perenungan tentang hal-hal sederhana yang kadang tidak kita sadari. Kisah nyata dalam buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca siapa saja.
Tentang penulis:
Tetsuko Kuroyanagi merupakan aktris, penulis, dan ahli panda dari Jepang. Buku pertamanya-yang sekaligus autobiografi, "Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela" meraih sukses di dunia internasional. Kisah Totto-chan merupakan salah satu kisah favorit saya. Tetsuko sempat mengalami masa kecil di tengah perang dunia II. Karena itu, perjalanan kemanusiaan yang dilakukannya sebagai Duta UNICEF menjadi pengalaman yang sangat dekat dengan dirinya.
Showing posts with label nonfiksi. Show all posts
Showing posts with label nonfiksi. Show all posts
Tuesday, March 26, 2013
Sunday, January 6, 2013
[Review] 123 Kutipan Film Ok
Penulis: Hikmat Darmawan
Penerbit: PlotPoint
Cetakan: Pertama, Mei 2012
Sekilas lihat cover buku ini, sangat eyecatching dengan warna hijau menyala dan tulisan 123 dengan font yang cukup besar. Sesuai judulnya, buku ini berisi kutipan-kutipan film dari berbagai genre dan tahun. Karena isinya kutipan, dari awal sudah diberi 'petunjuk' kalau kita bisa membaca buku ini secara acak, nggak harus urut per halaman. Selain kutipan film, ada beberapa bagian berisi tips singkat yang diambil dari adegan berbagai film. Tipsnya sendiri menurut saya lucu, kadang konyol, juga bikin bertanya-tanya sendiri, "percaya nggak yaaa" :p Nah, sepertinya seri 123 ini menyadari respon para pembaca. Makanya, di setiap akhir kutipan atau tips juga diberi indikator penting atau tidaknya tulisan itu. Levelnya mulai dari angka 1-5, dengan kategori penting aja sampai penting banget. Asiknya, kita bisa isi sendiri level ini menurut pendapat masing-masing.
Buku ini sangat ringan buat dibaca, nggak terlalu tebal juga. Saya sendiri menghabiskan buku ini dalam perjalanan Prameks dari Jogja ke Solo. Kutipannya banyak yang lucu, konyol, tapi ada juga yang bikin terharu dan bikin senyum-senyum sendiri. Nilai plus juga, habis baca kutipannya saya sadar banyak film yang belum ditonton. Langsung deh bikin list film apa saja yang pengen ditonton setelah baca 123 Kutipan Film Ok ini :D Ada beberapa kutipan favorit saya dari buku ini:
Harry: There are two kinds of women, high maintenance and low maintenance.
Sally: And Ingrid Bergman is low maintenance?
Harry: An L.M. Definitely.
Sally: Which one am I?
Harry: You're the worst kind. You're high maintenance, but you think you're low maintenance.
(When Harry Met Sally, 1989, Rob Reiner)
"Pekerjaan paling baik adalah pekerjaan di mana lo bisa nikmati pekerjaan itu tanpa pernah ngeluh" (Janji Joni, 2005, Joko Anwar)
"Remember... hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies" (The Shawshank Redemption, 1994, Frank Darabont)
123 Kutipan Film Ok sendiri merupakan salah satu judul dari seri 123 yang diterbitkan PlotPoint. Selain buku ini, ada juga judul seri 123 yang lain seperti 123 Tips PDKT & Nembak, 123 Anti Kere, 123 Anti Bego. Semua covernya eyecatching, warnanya saja yang beda. Di buku ini juga ada informasi tentang penerbit PlotPoint. Ternyata PlotPoint punya banyak workshop mulai dari menulis sampai bikin komik, langsung bersama pakarnya. Ide yang menarik dari sebuah penerbit. After all, buku ini cocok jadi bacaan ringan di waktu senggang, saya beri 3/5 bintang.
Ps: Ini postingan pertama saya setelah jadi anggota BBI dengan nomor 209. Semoga bisa konsisten nulis ya.. :D
Wednesday, December 12, 2012
[Review] The Not-So-Amazing Life of @aMrazing
Judul buku : The Not-So-Amazing Life of @aMrazing
Penulis : Alexander Thian
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 218 hlm
Cetakan pertama, 2012
Pertama kali lihat buku ini saya cukup penasaran seperti apa isinya, walaupun belum tergerak untuk beli. Lama-lama tambah penasaran juga setelah baca beberapa review dari blog. Akhirnya, saya baca buku ini modal pinjam dari temen. Hehe...
Saya kurang tahu harus memasukkan buku ini ke genre apa, tapi menurut penerbitnya, #TNSALOA ini masuk dalam kategori lifestyle. #TNSALOA berisi kumpulan cerita menarik yang dialami sendiri oleh penulis, @aMrazing, saat dia masih bekerja sebagai penjaga konter HP di sebuah mall di Jakarta. Di tengah gerahnya suasana mall, diakibatkan AC yang sering-mati-dan-yang-mau-benerin-nggak-dateng-dateng, @aMrazing mengalami banyak kejadian ajaib. Mulai dari bapak-bapak yang ngotot bahwa penyanyi lagu My Heart Will Go On adalah Maria Kere. Sudah dibilang salah, si bapak tetep ngotot juga sampai muter ke semua konter. Saya ngakak banget waktu bagian bapak ini bilang, "yang nyanyi di atas kapal, yang pelem yu jam ai jam" untuk mendeskripsikan film Titanic.
Lewat buku bersampul kuning cerah ini kita juga diajak melihat realita gadget jaman sekarang (ini bener nggak ya kalimat saya :p) Bagaimana seorang anak kelas 6 SD marah-marah ke ibunya minta dibelikan iPhone hanya karena teman-temannya juga sudah punya gadget canggih itu. Anak kelas 6 SD, punya iPhone mau buat apaaa?? Baca cerita Alex bikin saya ikut gemes sama adiknya sekaligus kasihan sama ibunya. Tambah gemes lagi waktu tahu hape si adik juga masih bagus dan banyak fitur yang lebih canggih daripada iPhone yang dipengenin itu. Tapi atas nama 'tren' si adik tetap ngotot dan nggak mau mendengarkan kata-kata Alex maupun ibunya.
Kalau di dua cerita di atas kita dibawa ngakak dan sebel, lain lagi apabila kita membaca cerita berjudul "Dummy Seharga Dua Juta". Cerita ini merupakan salah satu favorit saya. Bercerita tentang Pak Soni yang ingin memberikan hadiah untuk anaknya. Setiap hari bapak itu menabung sampai akhirnya uangnya cukup untuk membeli barang yang diinginkan si anak, yakni handphone Sony Ericsson W880i. Namun, Pak Soni mengira ada yang rusak pada hape tersebut lalu membawanya ke konter Alex. Alangkah terkejutnya sang bapak ketika mengetahui hape tersebut ternyata dummy alias tiruan. Ia telah kena tipu. Sampai sini saja, saya sudah ikut terharu melihat ketulusan Pak Soni untuk membahagiakan anaknya. Apalagi waktu tahu bagaimana perjuangan Pak Soni untuk merawat anak yang sangat disayanginya tersebut. Tak berlebihan, di bagian ini Alex sungguh berhasil menyajikan cerita yang menyentuh hati.
Selain tiga cerita di atas, kita juga akan disuguhi 11 cerita lainnya yang juga menawarkan berbagai rasa yang berbeda. Konyol, lucu, sebel, haru, miris semua jadi satu. #TNSALOA memang cukup mengaduk-aduk perasaan pembacanya karena bisa jadi belum selesai kita tertawa membaca sebuah cerita, kita akan langsung dibawa hanyut dan terharu membaca kisah selanjutnya. Di beberapa bagian memang saya merasa datar saja, tapi tetap buku ini menjadi bacaan yang menarik.
Gaya bahasa yang santai membuat buku ini cocok dilabeli sebagai bacaan ringan. Meski terkesan ringan, tanpa disadari kita akan terbawa untuk melihat realita yang kadang terlupakan. Selain belajar dari banyak kisah yang dituliskan, saya juga belajar bahwa bekerja bukan hanya bertujuan mencari keuntungan tapi juga berusaha berbuat baik untuk orang lain. Seperti yang dilakukan Alex, ketika di banyak kesempatan bisa saja ia mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi ia justru memberi saran yang bisa jadi tak berakibat baik pada pemasukannya. Ketika ia bisa saja cuek pada orang yang tak dikenalnya, ia justru bertekad untuk membantunya. Banyak nilai-nilai sosial yang bisa diambil dari buku ini. Akhirnya, sebagai penutup saya beri 3.5/5 bintang untuk buku ringan tapi penuh makna ini.
Penulis : Alexander Thian
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 218 hlm
Cetakan pertama, 2012
Pertama kali lihat buku ini saya cukup penasaran seperti apa isinya, walaupun belum tergerak untuk beli. Lama-lama tambah penasaran juga setelah baca beberapa review dari blog. Akhirnya, saya baca buku ini modal pinjam dari temen. Hehe...
Saya kurang tahu harus memasukkan buku ini ke genre apa, tapi menurut penerbitnya, #TNSALOA ini masuk dalam kategori lifestyle. #TNSALOA berisi kumpulan cerita menarik yang dialami sendiri oleh penulis, @aMrazing, saat dia masih bekerja sebagai penjaga konter HP di sebuah mall di Jakarta. Di tengah gerahnya suasana mall, diakibatkan AC yang sering-mati-dan-yang-mau-benerin-nggak-dateng-dateng, @aMrazing mengalami banyak kejadian ajaib. Mulai dari bapak-bapak yang ngotot bahwa penyanyi lagu My Heart Will Go On adalah Maria Kere. Sudah dibilang salah, si bapak tetep ngotot juga sampai muter ke semua konter. Saya ngakak banget waktu bagian bapak ini bilang, "yang nyanyi di atas kapal, yang pelem yu jam ai jam" untuk mendeskripsikan film Titanic.
Lewat buku bersampul kuning cerah ini kita juga diajak melihat realita gadget jaman sekarang (ini bener nggak ya kalimat saya :p) Bagaimana seorang anak kelas 6 SD marah-marah ke ibunya minta dibelikan iPhone hanya karena teman-temannya juga sudah punya gadget canggih itu. Anak kelas 6 SD, punya iPhone mau buat apaaa?? Baca cerita Alex bikin saya ikut gemes sama adiknya sekaligus kasihan sama ibunya. Tambah gemes lagi waktu tahu hape si adik juga masih bagus dan banyak fitur yang lebih canggih daripada iPhone yang dipengenin itu. Tapi atas nama 'tren' si adik tetap ngotot dan nggak mau mendengarkan kata-kata Alex maupun ibunya.
Kalau di dua cerita di atas kita dibawa ngakak dan sebel, lain lagi apabila kita membaca cerita berjudul "Dummy Seharga Dua Juta". Cerita ini merupakan salah satu favorit saya. Bercerita tentang Pak Soni yang ingin memberikan hadiah untuk anaknya. Setiap hari bapak itu menabung sampai akhirnya uangnya cukup untuk membeli barang yang diinginkan si anak, yakni handphone Sony Ericsson W880i. Namun, Pak Soni mengira ada yang rusak pada hape tersebut lalu membawanya ke konter Alex. Alangkah terkejutnya sang bapak ketika mengetahui hape tersebut ternyata dummy alias tiruan. Ia telah kena tipu. Sampai sini saja, saya sudah ikut terharu melihat ketulusan Pak Soni untuk membahagiakan anaknya. Apalagi waktu tahu bagaimana perjuangan Pak Soni untuk merawat anak yang sangat disayanginya tersebut. Tak berlebihan, di bagian ini Alex sungguh berhasil menyajikan cerita yang menyentuh hati.
Selain tiga cerita di atas, kita juga akan disuguhi 11 cerita lainnya yang juga menawarkan berbagai rasa yang berbeda. Konyol, lucu, sebel, haru, miris semua jadi satu. #TNSALOA memang cukup mengaduk-aduk perasaan pembacanya karena bisa jadi belum selesai kita tertawa membaca sebuah cerita, kita akan langsung dibawa hanyut dan terharu membaca kisah selanjutnya. Di beberapa bagian memang saya merasa datar saja, tapi tetap buku ini menjadi bacaan yang menarik.
Gaya bahasa yang santai membuat buku ini cocok dilabeli sebagai bacaan ringan. Meski terkesan ringan, tanpa disadari kita akan terbawa untuk melihat realita yang kadang terlupakan. Selain belajar dari banyak kisah yang dituliskan, saya juga belajar bahwa bekerja bukan hanya bertujuan mencari keuntungan tapi juga berusaha berbuat baik untuk orang lain. Seperti yang dilakukan Alex, ketika di banyak kesempatan bisa saja ia mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi ia justru memberi saran yang bisa jadi tak berakibat baik pada pemasukannya. Ketika ia bisa saja cuek pada orang yang tak dikenalnya, ia justru bertekad untuk membantunya. Banyak nilai-nilai sosial yang bisa diambil dari buku ini. Akhirnya, sebagai penutup saya beri 3.5/5 bintang untuk buku ringan tapi penuh makna ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)


