Showing posts with label Award Winner. Show all posts
Showing posts with label Award Winner. Show all posts
Saturday, April 13, 2013
[Review] The People Could Fly
Judul: The People Could Fly
Penulis: Virginia Hamilton
Ilustrasi: Leo dan Diane Dillo
Penerbit: Random House
Tebal: 32 halaman
Bahasa: Inggris
Terbit: November 2009
Kisah “The People Could Fly” mengambil latar belakang di daratan Afrika. Diceritakan bahwa dahulu beberapa orang dapat terbang, mereka mempunyai sayap yang hitam dan berkilau. Namun, perbudakan akhirnya mengubah hidup orang-orang ini. Sayap-sayap mereka terlepas, hingga kemampuan untuk terbang tak pernah lagi dibicarakan. Mereka pun membentuk kelompok bersama orang-orang yang memang tak mempunyai kemampuan terbang sejak awal. Semua bekerja di bawah tekanan karena adanya perbudakan.
Salah satu orang yang dahulu bisa terbang bernama Toby. Ada pula wanita bernama Sarah yang selalu menggendong bayinya ketika bekerja. Karena lapar, bayi Sarah menangis. Sarah tak bisa melakukan apa-apa karena tak punya makanan. Pengawas melihat hal ini dan memarahi Sarah, menyuruh bayinya diam. Toby berusaha menolong Sarah. Ia membisikkan kata-kata ajaib, dan tiba-tiba kemampuan Sarah kembali. Ia bisa terbang dan membawa anaknya menjauh dari pengawas.
Toby melakukan hal yang sama pada banyak orang. Ia membisikkan kata-kata yang membuat orang-orang tersebut mengingat kemampuan terbang mereka. Satu persatu mereka terbang memenuhi angkasa meninggalkan pengawas. Namun, tak semua dari orang-orang itu memiliki kemampuan terbang. Bagaimana dengan mereka yang tak bisa terbang? Dapatkah mereka lolos dari perbudakan? Simak cerita selengkapnya dalam buku ini.
“The People Could Fly” merupakan kisah yang penuh dengan pesan sosial, bahwa setiap orang berhak mendapatkan kebebasan. Banyak pesan yang tersirat dalam buku ini, membutuhkan pemahaman lebih agar pembaca dapat mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Virginia Hamilton. Sepanjang cerita pembaca akan disuguhi ilustrasi yang menarik sekaligus menyentuh. Buku ini telah mendapat beberapa penghargaan seperti Coretta Scott King Illustrator Honor Book dan ALA Notable Children’s Book. Virginia Hamilton sendiri sebelumnya telah memenangkan banyak penghargaan, antara lain Newberry Honor, Hans Christian Andersen Medal, dan Laura Ingalls Wilder Medal. Ilustrator buku ini juga pernah memenangkan Caldecott Medal.
Meski dilabeli sebagai buku anak-anak, kisah ini bisa dibaca orang dewasa karena banyak membawa pesan sosial. Untuk anak-anak, saya merekomendasikan buku ini dibaca anak di atas 11 tahun dan lebih baik didampingi orang tua. Kenapa? Walaupun bukunya tipis, sebenarnya tema yang diangkat 'berat'. Terakhir, 4/5 bintang untuk buku ini!
Posting untuk:
Sunday, April 7, 2013
[Review] Alice-Miranda at School
![]() |
| [source] |
Penulis: Jacqueline Harvey
Penerjemah: Reni Indardini
Penyunting: Herlina Sitorus
Penyelaras Aksara: Ike Shinta Dewi
Penerbit: Little K
Tebal: 274 hlm
Cetakan: I, Juni 2011
Alice-Miranda Highton-Smith-Kennington-Jones baru berumur 7 tahun ketika masuk ke Akademi Winchesterfield-Downsfordvale untuk Perempuan Muda Baik-Baik. Semua perempuan di keluarga Alice-Miranda bersekolah di asrama itu. Orang tuanya senang Alice-Miranda juga bersekolah di tempat yang sama, hanya saja tak menyangka ia akan mulai bersekolah di usia semuda itu. Pada hari keberangkatan ke sekolah, justru Alice-Miranda yang menenangkan ibunya agar tidak mengkhawatirkan dirinya.
Alice-Miranda sampai ke sekolah ketika masih musim liburan. Ini memberinya kesempatan untuk berkeliling sekolah terlebih dahulu. Pertama-tama, ia bertemu dengan Mrs. Smith, juru masak sekolah yang terkenal galak kepada anak-anak. Namun, dengan santai Alice-Miranda minum teh dan makan kue bersama Mrs. Smith. Dari perkenalan itu Alice-Miranda jadi tahu kalau Mrs. Smith belum pernah bertemu cucunya. Miss Grim, kepala sekolah, tidak pernah mengizinkan Mrs. Smith untuk libur. Mengetahui hal ini, Alice-Miranda bertekad ingin menemui Miss Grim agar mau mengizinkan Mrs. Smith libur.
Dalam perjalanan menuju ruangan Miss Grimm, Alice-Miranda bertemu Mr. Charles yang sedih karena tidak ada satupun bunga di lingkungan sekolah. Ia mengatakan Miss Grim tidak mau sekolah ditanami bunga. Ini membuat Alice-Miranda heran. Keinginan untuk bertemu Miss Grim semakin bertambah, dan menjadi lebih kuat lagi ketika ia berkenalan dengan Jacinta, siswa di sekolah itu. Jacinta tidak diizinkan ikut kejuaraan senam, padahal itu adalah hal yang paling diinginkannya.
Usaha untuk bertemu Miss Grim tinggal selangkah lagi. Alice-Miranda kini berada di ruangan Miss Higgins, sekretaris pribadi Miss Grim. Miss Higgins tidak memperbolehkan Alice-Miranda bertemu kepala sekolah. Namun, Alice-Miranda langsung menerobos masuk karena ia merasa pertemuan itu sangat penting. dan alangkah kagetnya Alice-Miranda ketika ia justru mendapat sambutan dingin dari Miss Grim. Ia pun kembali ke kamar, tapi berkata akan menemui kepala sekolah lain kali.
Alice-Miranda masih berusaha agar bisa bertemu Miss Grim. Seiring berjalannya waktu ia berkenalan dengan Millie. Ia juga telah bertemu Alethea, gadis kaya tapi sombong yang dibenci (dan ditakuti) seluruh siswa. Karena tidak kunjung mendapat kesempatan bertemu Miss Grim, Alice-Miranda akhirnya menyusun rencana agar Mrs. Smith dapat bertemu keponakannya. Tak lupa ia juga melakukan sesuatu agar Mr. Charles dapat menanam bunga di sekolah. Rupanya, Miss Grim tak terlalu suka dengan sikap Alice-Miranda ini. Miss Grim yang selama 10 tahun tidak pernah keluar ruangan, merasa terusik dengan kehadiran Alice-Miranda. Ia pun merencanakan rangkaian tes yang dianggapnya dapat membuat Alice-Miranda keluar dari sekolah. Simak petualangan Alice-Miranda menghadapi tes tersebut dalam buku ini.
Kesan pertama membaca buku ini, saya geli dengan nama-nama yang ada di sini. Di halaman pertama saja, saya sudah bertemu dengan Alice-Miranda Highton-Smith-Kennington-Jones. Lalu, tak lama kemudian saya membaca Akademi Winchesterfield-Downsfordvale untuk Perempuan Muda Baik-Baik (yang dalam versi aslinya bernama Winchesterfield-Downsfordvale Academy for Proper Young Ladies). Nama-nama yang sulit diucapkan (setidaknya bagi saya), dan tetap memberi kesan lucu hingga di halaman-halaman terakhir. :)
Cerita ini bukanlah kisah yang akan membuat pembacanya tegang karena konflik yang ada. Namun, sangat mungkin buku ini tetap 'mengikat' kita agar membaca sampai akhir. Saya sendiri sangat santai dalam membaca buku ini. Saya tak mengharapkan akhir yang menakjubkan dari cerita ini. Tapi saya sangat menikmati membaca kisah ini. Salah satunya karena karakter Alice-Miranda yang sangat mendominasi, juga cara penulis menuturkan kisah bisa membuat pembaca jatuh cinta pada sosok Alice-Miranda.
Alice-Miranda at School ini merupakan seri pertama dari cerita Alice-Miranda. Kisahnya yang santai bisa membuat pembaca benar-benar menyegarkan pikirannya, jadi buku ini sangat cocok dibaca di waktu senggang. Karena tidak terlalu sarat konflik, juga banyak sikap yang bisa ditiru dari Alice-Miranda, saya pikir anak usia 10 tahun ke atas sudah bisa memahami cerita ini. Saya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Alice-Miranda selanjutnya. Untuk petualangan Alice-Miranda kali ini, saya beri 3/5 bintang .
Karakter dalam judul buku:
Alice-Miranda adalah anak kecil yang cerdas, ramah, dan baik hati pada semua orang. Yang tak kalah penting, ia juga berpikiran positif pada semua hal, juga selalu optimis. Mungkin pembaca akan menganggap Alice-Miranda adalah sosok yang mau tahuuu aja urusan orang lain. Tapi sebenarnya itu hanyalah cara dia agar bisa membantu orang tersebut. Saya sendiri sering gemes dengan kelakuan Alice-Miranda ini. ;)
Posting untuk:

Thursday, February 28, 2013
[Review] Harry Potter and The Chamber of Secrets
Judul: Harry Potter dan Kamar Rahasia
Judul asli: Harry Potter and The Chamber of Secrets
Penulis: J.K Rowling
Alih Bahasa: Listiana Srisanti
Tebal: 424 hlm
Cetakan: Kesembilan belas, Agustus 2007
Winner of Mythopoeic Fantasy Award Winners
Baru setahun mengetahui bahwa dirinya penyihir, Harry telah mengalami petualangan yang sangat menegangkan. Bertemu dengan Voldemort yang berambisi untuk menghabisi dirinya, bahkan sejak Harry masih bayi. Kini sang anak laki-laki dengan tanda petir di dahinya itu kembali dengan petualangan yang baru. Harry sangat menanti-nanti hari kembali ke Hogwarts, bertemu dengan Ron, Hermione, juga Hagrid. Apalagi Hedwig sudah bosan setengah mati karena tidak bisa jalan-jalan. Namun, sebelum kembali ke Hogwarts, Harry harus bersabar dahulu menghabiskan waktu bersama Paman Vernon, Bibi Petunia, juga Duddley.
Harry tak kaget lagi jika dirinya harus berpura-pura tidak ada jika Paman Vernon sedang mengadakan jamuan. Seperti malam itu, skenario telah berjalan rapi. Harry menyepi di kamarnya sementara keluarga Paman Vernon menikmati santap malam bersama tamu mereka. Keheningan di kamar Harry tiba-tiba pecah oleh kedatangan Dobby, sang peri rumah. "Harry Potter tidak boleh kembali ke Hogwarts," begitu katanya. Tentu saja itu adalah saran yang sangat tidak masuk akal bagi Harry. Sepanjang liburan ia habiskan hanya untuk menantikan hari-hari kembali ke Hogwarts. Melihat Harry menolak pendapatnya mentah-mentah, Dobby pun berulah. Ia keluar dari kamar, menuju ke ruang perjamuan. Kekacauan yang sangat ditakutkan oleh Paman Vernon pun tidak dapat terelakkan.
Saat yang paling diharapkan Harry akhirnya tiba juga, hari keberangkatan ke Hogwarts. Ia menumpang mobil Paman Vernon ke stasiun, dengan percaya diri Harry menuju ke peron 9 3/4. Ia bertemu kawan dekatnya Ron Weasley, bersama keluarga Weasley lainnya. Ginny, anggota Weasley terkecil rupanya menjadi siswa Hogwarts pula tahun ini.
Semua berjalan lancar sebelum kejadian aneh di peron 9 3/4. Semua keluarga Weasley sudah berhasil masuk peron. Namun, Harry dan Ron tidak bisa menembus dinding yang menjadi pintu peron tersebut. Ide spontan pun muncul dari Ron untuk mengendarai mobil terbang milik ayahnya. Sepertinya memang satu kekacauan memiliki kemungkinan besar memunculkan kekacauan lainnya. Begitu pula dengan Harry dan Ron. Perjalanan keren mereka menaiki mobil terbang harus berakhir dengan pukulan dari Dedalu Perkasa. Tak sampai di situ, mereka berdua mendapat detensi di hari pertama masuk sekolah.
Dalam seri kedua Harry Potter ini, kita akan berkenalan dengan Gilderoy Lockhart, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Seorang pria yang sangat narsis, menjengkelkan bagi Harry dan guru-guru Hogwarts, tapi begitu dipuja para siswi. Banyak kejadian yang dialami Harry di Hogwarts. Dobby kembali lagi, memperingatkan ia tentang hal yang membahayakan dirinya. Yang lebih mengerikan, Hogwarts mendapat serangan. Beberapa penghuni Hogwarts dibuat membatu oleh sesuatu yang tak mereka ketahui. Harry dan Ron sangat terpukul ketika mengetahui Hermione menjadi salah satu siswa yang mendapat serangan. Serangan-serangan ini bermuara pada satu tempat: Kamar Rahasia.
Apa sebenarnya Kamar Rahasia? Dapatkah penghuni Hogwarts sembuh dari serangan tersebut? Lembar demi lembar seri kedua Harry Potter ini akan mengantar kita menemukan jawabannya.
Seperti biasa, JK Rowling berhasil membius para pembacanya dengan kata-kata dan kisah yang luar biasa. Menghadirkan setiap detail sebagai petunjuk dalam celah kisahnya. Dalam buku kedua ini, kita akan bertemu dengan lebih banyak karakter, juga lebih banyak petualangan. Salah satu bagian favorit saya adalah JK Rowling tak pernah melupakan betapa pentingnya memiliki banyak pengetahuan. Hal ini ia hadirkan lewat Hermione, yang mencintai buku-buku, memiliki keinginan belajar lebih dari siapapun. Tentu saja, pada akhirnya terbukti bahwa memiliki pengetahuan luas jelas tidak ada ruginya :)
Petualangan yang menegangkan, disertai kerjasama apik juga misteri yang menggelitik membuat buku ini cocok dibaca untuk anak usia 10 tahun ke atas. Saya sendiri memberikan 5/5 bintang untuk kisah kedua dari seri Harry Potter ini :D Sampai jumpa di petualangan selanjutnya.
Posting untuk:
Judul asli: Harry Potter and The Chamber of Secrets
Penulis: J.K Rowling
Alih Bahasa: Listiana Srisanti
Tebal: 424 hlm
Cetakan: Kesembilan belas, Agustus 2007
Winner of Mythopoeic Fantasy Award Winners
Baru setahun mengetahui bahwa dirinya penyihir, Harry telah mengalami petualangan yang sangat menegangkan. Bertemu dengan Voldemort yang berambisi untuk menghabisi dirinya, bahkan sejak Harry masih bayi. Kini sang anak laki-laki dengan tanda petir di dahinya itu kembali dengan petualangan yang baru. Harry sangat menanti-nanti hari kembali ke Hogwarts, bertemu dengan Ron, Hermione, juga Hagrid. Apalagi Hedwig sudah bosan setengah mati karena tidak bisa jalan-jalan. Namun, sebelum kembali ke Hogwarts, Harry harus bersabar dahulu menghabiskan waktu bersama Paman Vernon, Bibi Petunia, juga Duddley.
Harry tak kaget lagi jika dirinya harus berpura-pura tidak ada jika Paman Vernon sedang mengadakan jamuan. Seperti malam itu, skenario telah berjalan rapi. Harry menyepi di kamarnya sementara keluarga Paman Vernon menikmati santap malam bersama tamu mereka. Keheningan di kamar Harry tiba-tiba pecah oleh kedatangan Dobby, sang peri rumah. "Harry Potter tidak boleh kembali ke Hogwarts," begitu katanya. Tentu saja itu adalah saran yang sangat tidak masuk akal bagi Harry. Sepanjang liburan ia habiskan hanya untuk menantikan hari-hari kembali ke Hogwarts. Melihat Harry menolak pendapatnya mentah-mentah, Dobby pun berulah. Ia keluar dari kamar, menuju ke ruang perjamuan. Kekacauan yang sangat ditakutkan oleh Paman Vernon pun tidak dapat terelakkan.
Saat yang paling diharapkan Harry akhirnya tiba juga, hari keberangkatan ke Hogwarts. Ia menumpang mobil Paman Vernon ke stasiun, dengan percaya diri Harry menuju ke peron 9 3/4. Ia bertemu kawan dekatnya Ron Weasley, bersama keluarga Weasley lainnya. Ginny, anggota Weasley terkecil rupanya menjadi siswa Hogwarts pula tahun ini.
Semua berjalan lancar sebelum kejadian aneh di peron 9 3/4. Semua keluarga Weasley sudah berhasil masuk peron. Namun, Harry dan Ron tidak bisa menembus dinding yang menjadi pintu peron tersebut. Ide spontan pun muncul dari Ron untuk mengendarai mobil terbang milik ayahnya. Sepertinya memang satu kekacauan memiliki kemungkinan besar memunculkan kekacauan lainnya. Begitu pula dengan Harry dan Ron. Perjalanan keren mereka menaiki mobil terbang harus berakhir dengan pukulan dari Dedalu Perkasa. Tak sampai di situ, mereka berdua mendapat detensi di hari pertama masuk sekolah.
Dalam seri kedua Harry Potter ini, kita akan berkenalan dengan Gilderoy Lockhart, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Seorang pria yang sangat narsis, menjengkelkan bagi Harry dan guru-guru Hogwarts, tapi begitu dipuja para siswi. Banyak kejadian yang dialami Harry di Hogwarts. Dobby kembali lagi, memperingatkan ia tentang hal yang membahayakan dirinya. Yang lebih mengerikan, Hogwarts mendapat serangan. Beberapa penghuni Hogwarts dibuat membatu oleh sesuatu yang tak mereka ketahui. Harry dan Ron sangat terpukul ketika mengetahui Hermione menjadi salah satu siswa yang mendapat serangan. Serangan-serangan ini bermuara pada satu tempat: Kamar Rahasia.
Apa sebenarnya Kamar Rahasia? Dapatkah penghuni Hogwarts sembuh dari serangan tersebut? Lembar demi lembar seri kedua Harry Potter ini akan mengantar kita menemukan jawabannya.
****
Ini adalah kali ketiga saya membaca Harry Potter dan Kamar Rahasia. Menyenangkan untuk mengingat-ingat bagaimana saya dulu membaca kisah ini untuk pertama kalinya. Dulu, bagi saya seri kedua Harry Potter ini adalah buku yang sangat tebal, yang saya tak tahu berapa baru bisa saya selesaikan. Namun, pada akhirnya saya tak dapat melepaskan buku ini sebelum menuntaskannya. Dan, menyenangkan sekali, mengetahui bahwa perasaan yang sama terjadi pada pengalaman ketiga ini. Seperti biasa, JK Rowling berhasil membius para pembacanya dengan kata-kata dan kisah yang luar biasa. Menghadirkan setiap detail sebagai petunjuk dalam celah kisahnya. Dalam buku kedua ini, kita akan bertemu dengan lebih banyak karakter, juga lebih banyak petualangan. Salah satu bagian favorit saya adalah JK Rowling tak pernah melupakan betapa pentingnya memiliki banyak pengetahuan. Hal ini ia hadirkan lewat Hermione, yang mencintai buku-buku, memiliki keinginan belajar lebih dari siapapun. Tentu saja, pada akhirnya terbukti bahwa memiliki pengetahuan luas jelas tidak ada ruginya :)
Petualangan yang menegangkan, disertai kerjasama apik juga misteri yang menggelitik membuat buku ini cocok dibaca untuk anak usia 10 tahun ke atas. Saya sendiri memberikan 5/5 bintang untuk kisah kedua dari seri Harry Potter ini :D Sampai jumpa di petualangan selanjutnya.
Posting untuk:
[Review] Kisah Desperaux
Judul: Kisah Desperaux
Judul asli: The Tale of Desperaux
Penulis: Kate DiCamillo
Alih bahasa: Diniarty Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 275 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2005
Winner of Newberry Book 2004
Anak-anak, percayakah jika kukatakan di dunia ini ada seekor tikus yang jatuh cinta pada seorang putri raja? Ia juga sangat mengagumi musik dan cahaya. Percayakah kau jika kukatakan tikus itu lebih suka berdiam diri di atas lembaran buku untuk membaca dongeng-dongeng indah, daripada menggerigiti kertasnya seperti yang dilakukan tikus-tikus lain? Sulit dipercaya memang. Jika kau belum pernah bertemu tikus seperti itu maka kau harus berkenalan dengan Desperaux Tilling.
Sejak lahir, Desperaux sudah menjadi tikus yang sangat berbeda dengan tikus pada umumnya. Tahukah anak-anak, Desperaux lahir dengan mata terbuka, tak seperti tikus-tikus lain. Badannya sangat kecil, tapi telinganya begitu lebar. Begitu mencoloknya ia sehingga Desperaux menjadi terkenal bahkan sejak baru dilahirkan.
Ingatkah kau pada putri raja yang kuceritakan tadi? Putri Pea namanya. Desperaux jatuh cinta pada putri tersebut sejak pertama kali melihatnya. Ia bahkan mendengarkan musik bersama sang putri, juga raja. Saudara-saudara Desperaux tentu khawatir dengan sikap Desperaux ini. Berkali-kali Desperaux dilatih menjadi tikus kastil yang normal, tapi ia tetap tidak bisa melupakan Putri Pea, musik, dan dongeng. Maka, dengan terpaksa akhirnya Desperaux diturunkan ke ruangan bawah tanah oleh Dewan Tikus.
Anak-anak, apa yang ada di pikiranmu jika mendengar kata 'ruangan bawah tanah?' Gelap? Tentu saja! Bahkan tikus-tikus kastil lainnya pun ketakutan jika harus turun ke ruangan bawah tanah. Dalam labirin-labirin yang menyesatkan itu bersembunyi ratusan tikus got yang bisa memakanmu sewaktu-waktu. Bagaimana nasib Desperaux di sana? Kau akan menemukannya dalam lembar demi lembar buku ini.
Anak-anak, petualangan kita kali ini tak hanya ditemani oleh Desperaux. Kita juga akan berkenalan dengan Roscuro, seekor tikus got yang begitu mencintai cahaya. Namun, sebuah pengalaman buruk bersama sang raja, ratu, dan Putri Pea membuat kelembutan hatinya tertutup. Ia berniat membalas dendam kepada mereka bertiga. Untuk menjalankan misinya ini, ia mengajak Miggery Sow, seorang gadis pelayan yang sangat mendambakan menjadi putri raja. Kasihan Mig, begitu ia kerap disapa, ia tak punya niat jahat. Ia hanya ingin mewujudkan impiannya menjadi seorang putri. Jika kau sabar untuk membuka lembaran buku ini, kau akan mengetahui bagaimana hubungan antara Desperaux, Roscuro, juga Mig, dan bagaimana petualangan mereka akan berakhir.
Kate DiCamillo memilih menjadi juru cerita dalam kisahnya ini. Ia menuturkan kisah demi kisah seakan-akan kita adalah anak-anak yang mendengarkan ceritanya. Saya suka dengan gaya bahasanya. Namun, entah kenapa buku ini tak bisa langsung saya tuntaskan. Mungkin karena jalan cerita yang terkadang terasa sangat lambat.
Buku ini mendapatkan penghargaan Newberry Book 2004, sebuah penghargaan bagi cerita anak-anak terbaik di Amerika Serikat. Jika Anda penyuka buku anak-anak, Kisah Desperaux bisa jadi pilihan sebagai salah satu karya literatur anak kelas dunia. Kisah ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang memukau dari Timothy Basil Ering. Ilustrasi yang membuat kita terdiam sejenak untuk menikmatinya. Goresan pensil yang lembut dan terasa begitu hidup.
Konflik dalam buku ini cukup beragam, mulai dari bagaimana menjadi berbeda dengan lingkungan pada umumnya, kasih sayang orang tua kepada anak, juga perasaan cinta seperti yang dialami Desperaux. Banyaknya konflik membuat buku ini kurang cocok dibaca anak-anak usia awal. Namun, untuk usia 11 tahun ke atas sepertinya sudah bisa menikmati dan memahami kisah ini. Kisah Desperaux juga telah diangkat menjadi cerita film animasi dengan judul yang sama.
Ide yang unik dengan ilustrasi memukau menjadi dua hal yang sangat saya sukai dari buku ini. Jika ditanya tentang kekurangan, jawabannya adalah alur cerita yang sedikit lambat, seperti yang saya singgung di atas tadi. Akhirnya, bagi saya Kisah Desperaux patut mendapatkan 3/5 bintang!
Review ini diikutkan dalam Fun Year With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)
Judul asli: The Tale of Desperaux
Penulis: Kate DiCamillo
Alih bahasa: Diniarty Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 275 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2005
Winner of Newberry Book 2004
Anak-anak, percayakah jika kukatakan di dunia ini ada seekor tikus yang jatuh cinta pada seorang putri raja? Ia juga sangat mengagumi musik dan cahaya. Percayakah kau jika kukatakan tikus itu lebih suka berdiam diri di atas lembaran buku untuk membaca dongeng-dongeng indah, daripada menggerigiti kertasnya seperti yang dilakukan tikus-tikus lain? Sulit dipercaya memang. Jika kau belum pernah bertemu tikus seperti itu maka kau harus berkenalan dengan Desperaux Tilling.
Sejak lahir, Desperaux sudah menjadi tikus yang sangat berbeda dengan tikus pada umumnya. Tahukah anak-anak, Desperaux lahir dengan mata terbuka, tak seperti tikus-tikus lain. Badannya sangat kecil, tapi telinganya begitu lebar. Begitu mencoloknya ia sehingga Desperaux menjadi terkenal bahkan sejak baru dilahirkan.
Ingatkah kau pada putri raja yang kuceritakan tadi? Putri Pea namanya. Desperaux jatuh cinta pada putri tersebut sejak pertama kali melihatnya. Ia bahkan mendengarkan musik bersama sang putri, juga raja. Saudara-saudara Desperaux tentu khawatir dengan sikap Desperaux ini. Berkali-kali Desperaux dilatih menjadi tikus kastil yang normal, tapi ia tetap tidak bisa melupakan Putri Pea, musik, dan dongeng. Maka, dengan terpaksa akhirnya Desperaux diturunkan ke ruangan bawah tanah oleh Dewan Tikus.
Anak-anak, apa yang ada di pikiranmu jika mendengar kata 'ruangan bawah tanah?' Gelap? Tentu saja! Bahkan tikus-tikus kastil lainnya pun ketakutan jika harus turun ke ruangan bawah tanah. Dalam labirin-labirin yang menyesatkan itu bersembunyi ratusan tikus got yang bisa memakanmu sewaktu-waktu. Bagaimana nasib Desperaux di sana? Kau akan menemukannya dalam lembar demi lembar buku ini.
Anak-anak, petualangan kita kali ini tak hanya ditemani oleh Desperaux. Kita juga akan berkenalan dengan Roscuro, seekor tikus got yang begitu mencintai cahaya. Namun, sebuah pengalaman buruk bersama sang raja, ratu, dan Putri Pea membuat kelembutan hatinya tertutup. Ia berniat membalas dendam kepada mereka bertiga. Untuk menjalankan misinya ini, ia mengajak Miggery Sow, seorang gadis pelayan yang sangat mendambakan menjadi putri raja. Kasihan Mig, begitu ia kerap disapa, ia tak punya niat jahat. Ia hanya ingin mewujudkan impiannya menjadi seorang putri. Jika kau sabar untuk membuka lembaran buku ini, kau akan mengetahui bagaimana hubungan antara Desperaux, Roscuro, juga Mig, dan bagaimana petualangan mereka akan berakhir.
****
Bagi saya, The Tale of Desperaux merupakan kisah yang indah, juga memutarbalikkan kenyataan. Bagaimana seekor tikus yang biasanya menghindari sinar matahari justru sangat mencintai cahaya. Bagaimana seorang manusia dipermainkan tikus dan dibuat tak berdaya. Seperti biasa, sosok putri raja digambarkan sebagai seorang yang cantik dan berhati lembut. Namun, kisah putri raja kali ini tambah lengkap dengan hadirnya Mig, gadis pelayan dengan keadaan yang jauh berbeda dengan putri tersebut.Kate DiCamillo memilih menjadi juru cerita dalam kisahnya ini. Ia menuturkan kisah demi kisah seakan-akan kita adalah anak-anak yang mendengarkan ceritanya. Saya suka dengan gaya bahasanya. Namun, entah kenapa buku ini tak bisa langsung saya tuntaskan. Mungkin karena jalan cerita yang terkadang terasa sangat lambat.
Buku ini mendapatkan penghargaan Newberry Book 2004, sebuah penghargaan bagi cerita anak-anak terbaik di Amerika Serikat. Jika Anda penyuka buku anak-anak, Kisah Desperaux bisa jadi pilihan sebagai salah satu karya literatur anak kelas dunia. Kisah ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang memukau dari Timothy Basil Ering. Ilustrasi yang membuat kita terdiam sejenak untuk menikmatinya. Goresan pensil yang lembut dan terasa begitu hidup.
Konflik dalam buku ini cukup beragam, mulai dari bagaimana menjadi berbeda dengan lingkungan pada umumnya, kasih sayang orang tua kepada anak, juga perasaan cinta seperti yang dialami Desperaux. Banyaknya konflik membuat buku ini kurang cocok dibaca anak-anak usia awal. Namun, untuk usia 11 tahun ke atas sepertinya sudah bisa menikmati dan memahami kisah ini. Kisah Desperaux juga telah diangkat menjadi cerita film animasi dengan judul yang sama.
![]() |
| sumber |
Review ini diikutkan dalam Fun Year With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)
Juga untuk New Authors Reading Challenge host by Ren's Little Corner:
Wednesday, February 27, 2013
[Review] Zoo
Judul: Zoo
Penulis: Anthony Browne
Penerbit: Random House Children's Book.
Tahun terbit: 1992
Winner of The Kate Greenaway Medal
Pengalaman berlibur ke kebun binatang bersama keluarga tentu tak asing bagi banyak orang. Dalam buku bergambar ini, Anthony Browne bercerita tentang sebuah keluarga yang menghabiskan satu hari mereka di kebun binantang. Tanpa banyak konflik, cerita ini justru menjadi sangat nyata. Apalagi ditambah dengan ilustrasi menarik di setiap halamannya.
Zoo diceritakan melalui sudut pandang anak laki-laki pertama dalam keluarga itu. Ia bercerita tentang liburannya ke kebun binatang bersama ayah, ibu, dan adik laki-lakinya. Cerita diawali dengan kemacetan luar biasa di jalan, membuat ia dan adiknya begitu bosan. Dilanjutkan dengan kekesalannya melihat tingkah si ayah yang berdebat dengan petugas piket. Tak lupa, ia juga sering bertengkar dengan si adik karena masalah sepele, misalnya bosan dengan suasana kebun binatang, ataupun lapar setelah jalan-jalan seharian.
Liburan biasanya identik dengan keceriaan. Namun, tokoh 'I' di sini justru lebih banyak bosan di kebun binatang. Menurutnya, liburan ini tidak seru karena hanya melihat binatang-binatang yang berlalu-lalang di kandang. Namun pada akhirnya mereka semua dapat bergembira setelah makan di kafe yang enak juga mendapat topi bergambar binatang untuk masing-masing.
Cerita ini sangat dekat dengan kehidupan anak sehari-hari. Merengek-rengek kepada ibu untuk makan, bertengkar dengan saudara merupakan pengalaman yang tak asing lagi. Ditambah lagi ilustrasi yang memukau di setiap halaman akan membuat anak-anak sangat menikmati buku ini. Berikut contoh ilustrasi yang ada di buku ini:
![]() |
| sumber |
| sumber |
![]() |
| my favourite! |
Buku ini cocok dibaca anak-anak mulai usia sepuluh tahun ke atas, karena kalimatnya agak panjang tapi disertai ilustrasi yang sangat membantu. Untuk cerita yang sederhana, dekat dengan anak-anak, dan ilustrasi yang luar biasa, saya beri 4/5 bintang bagi Zoo karya Anthony Browne ini.
Review ini diikutkan dalam Fun Year Event With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)
Tuesday, January 22, 2013
[Review] The Snowy Day
Judul: The Snowy Day
Penulis: Ezra Jack Keats
Penerbit: Scholastic
Tahun: 1962
The Snowy Day mengisahkan petualangan Peter di hari bersalju. Mulai dari membuat pola dengan jejak kakinya, pura-pura mendaki gunung bersalju, dan membuat manusia salju. Semua dilakukannya dalam satu hari. Wah, banyak sekali ya yang bisa dimainkan waktu hari bersalju. Waktu pulang ke rumah pun Peter masih teringat petualangannya bersama salju di hari itu.
Buku tipis ini penuh dengan ilustrasi berwarna. Penulisnya, Keats, membuat sendiri ilustrasi-ilustrasi di buku ini. Ilustrasi Keats di buku ini membuatnya meraih Caldecott Medal pada 1963. Sekilas tentang Caldecott Medal, penghargaan ini diberikan kepada ilustrator buku anak-anak di Amerika Serikat. Caldecott Medal sudah dimulai sejak 1938 dan merupakan salah satu ajang penghargaan buku anak yang paling prestisius. Nama penghargaan ini diambil dari Randolph Caldecott, seorang ilustrator asal Inggris yang banyak membuat ilustrasi untuk buku anak-anak. Tentang ilustrasi di The Snowy Day, saya memang tidak tahu banyak soal ilustrasi. Tapi menurut saya, ilustrasi yang sederhana di buku ini, tidak terlalu banyak detail justru membuat gambarnya menjadi menarik. Kata-kata sederhana dan ilutrasi menarik membuat buku ini layak dibaca anak usia delapan tahun ke atas, ketika mereka mulai banyak belajar Bahasa Inggris di sekolah.
Meski sekilas terlihat sederhana, rupanya ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Keats lewat tokoh utama buku ini, yaitu Peter. Keats menyadari di buku anak-anak jarang sekali seorang anak African-American menjadi tokoh utama. Akhirnya, lewat buku ini Keats berusaha memberi ruang terhadap anak African-American yang menjadi minoritas. The Snowy Day merupakan buku pertama yang ditulis dan dibuat ilustrasinya sendiri oleh Keats. Dan juga buku pertama yang menampilkan seorang anak African-American sebagai tokoh utama di sebuah buku bergambar.
Saya sangat menyukai bacaan anak-anak meski referensi saya belum terlalu banyak. Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari literatur anak, termasuk latar belakang penulisan literatur anak itu, salah satunya contohnya di buku The Snowy Day ini. Jika hanya melihat ceritanya saja, siapa sangka buku tipis yang penuh warna ini merupakan hasil observasi penulisnya tentang tren buku anak-anak selama ini, dan bahkan berkaitan dengan isu ras. Melihat hal-hal lain yang lebih besar dari sesuatu yang sederhana merupakan petualangan tersendiri dalam membaca literatur anak. Dan akhirnya, 4/5 bintang saya berikan untuk buku ini!
Review ini diikutkan dalam Fun Year Event With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)
Penulis: Ezra Jack Keats
Penerbit: Scholastic
Tahun: 1962
The Snowy Day mengisahkan petualangan Peter di hari bersalju. Mulai dari membuat pola dengan jejak kakinya, pura-pura mendaki gunung bersalju, dan membuat manusia salju. Semua dilakukannya dalam satu hari. Wah, banyak sekali ya yang bisa dimainkan waktu hari bersalju. Waktu pulang ke rumah pun Peter masih teringat petualangannya bersama salju di hari itu.
Buku tipis ini penuh dengan ilustrasi berwarna. Penulisnya, Keats, membuat sendiri ilustrasi-ilustrasi di buku ini. Ilustrasi Keats di buku ini membuatnya meraih Caldecott Medal pada 1963. Sekilas tentang Caldecott Medal, penghargaan ini diberikan kepada ilustrator buku anak-anak di Amerika Serikat. Caldecott Medal sudah dimulai sejak 1938 dan merupakan salah satu ajang penghargaan buku anak yang paling prestisius. Nama penghargaan ini diambil dari Randolph Caldecott, seorang ilustrator asal Inggris yang banyak membuat ilustrasi untuk buku anak-anak. Tentang ilustrasi di The Snowy Day, saya memang tidak tahu banyak soal ilustrasi. Tapi menurut saya, ilustrasi yang sederhana di buku ini, tidak terlalu banyak detail justru membuat gambarnya menjadi menarik. Kata-kata sederhana dan ilutrasi menarik membuat buku ini layak dibaca anak usia delapan tahun ke atas, ketika mereka mulai banyak belajar Bahasa Inggris di sekolah.
Meski sekilas terlihat sederhana, rupanya ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Keats lewat tokoh utama buku ini, yaitu Peter. Keats menyadari di buku anak-anak jarang sekali seorang anak African-American menjadi tokoh utama. Akhirnya, lewat buku ini Keats berusaha memberi ruang terhadap anak African-American yang menjadi minoritas. The Snowy Day merupakan buku pertama yang ditulis dan dibuat ilustrasinya sendiri oleh Keats. Dan juga buku pertama yang menampilkan seorang anak African-American sebagai tokoh utama di sebuah buku bergambar.
Saya sangat menyukai bacaan anak-anak meski referensi saya belum terlalu banyak. Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari literatur anak, termasuk latar belakang penulisan literatur anak itu, salah satunya contohnya di buku The Snowy Day ini. Jika hanya melihat ceritanya saja, siapa sangka buku tipis yang penuh warna ini merupakan hasil observasi penulisnya tentang tren buku anak-anak selama ini, dan bahkan berkaitan dengan isu ras. Melihat hal-hal lain yang lebih besar dari sesuatu yang sederhana merupakan petualangan tersendiri dalam membaca literatur anak. Dan akhirnya, 4/5 bintang saya berikan untuk buku ini!
Review ini diikutkan dalam Fun Year Event With Children's Literature host by Bacaan Bzee dan Little Alice's Garden. Yang mau tahu lebih banyak klik gambar berikut :)
Subscribe to:
Posts (Atom)












